Bali for a while

20140401-235157.jpg

Terakhir saya ngetrip kalau gak salah ke Dieng, mendekati Idul Adha tahun lalu. Cuman memang gak saya posting di sini. Sebelum Dieng, saya sempat juga trip ke beberapa tempat, Anak Krakatau kemudian TN Baluran dan lanjut ke Menjangan, Bali Barat. Waktu itu niatnya mau ditulis, setidaknya buat kenang-kenangan, tapi ketunda akhirnya gagal sampai sekarang. Hehe. Sayang sih sebetulnya, karena menarik.

Nah, minggu kemarin, kebetulan saya dapet tugas untuk dateng di acaranya sebuah perusahaan TI yang pusatnya di US. Ini yang ngundang cabangnya di Indonesia, undangan untuk beberapa media. Sebetulnya saya tidak begitu excited, karena satu dan lain hal. Tetapi, penugasan luar kota sebelumnya, saya nolak. Jadi gak enak kalau nolak lagi. Baiklah, nikmati saja akhirnya.
Continue reading

Seklumit di hari terakhir IBF 2014

Islamic Book Fair buat saya, semacam event tahunan yang gak boleh kelewat. Meskipun, saya sadari, hobi saya lebih tepat dibilang belanja buku ketimbang menamatkannya. Karena memang, beberapa buku yang dibeli tahun lalu belum tersentuh, bahkan masih dibungkus plastiknya. Parah emang sih hahaha.

Meski sadar kalau saya harusnya menghabiskan buku-buku yang belum terbaca dulu, saya tetap merasa gak boleh melewatkan IBF tahun ini, yang seperti biasa digelar di Istora Senayan. Akhirnya, dengan kondisi yang sebetulnya saat itu kurang fit, saya tetap jalan ke istora, sendirian di hari terakhir, Ahad siang yang sedikit terik. Gak apalah sendirian, lebih bebas mau keliling ke stand mana saja dan berapa lama. :)

Hasilnya, apa saja yang saya beli? Saya cuma beli dua buku loh, itu pun novel semua yang saya beli karena sudah baca edisi pertamanya, jadi penasaran kelanjutannya. Saya sadar, beberapa buku belum terbaca dan saya sudah tidak ada space lagi untuk menaruh buku-buku itu kalau saya beli lagi saat itu. hehe

Gak ngeborong buku, ternyata ga membuat saya gak puas datang. Nyatanya, saya tetap puas karena bisa menikmati suguhan acara pada hari itu. Berikut secara ringkas apa yang saya dapat:
Continue reading

Pinta

Sedikit berbagi tentang yang saya alami belum lama ini tentang mahabaiknya Allah. Dalam kurun waktu yang tak sampai seminggu, rasanya Allah mengabulkan keinginan saya yang bahkan tidak terucap. Hanya terbesit, di batin saya.

Cerita sedikit ga apa deh ya,

Jadi ceritanya saya minggu lalu liputan sebuah acara. Kebetulan tempatnya di Mall. Karena masih ada waktu sebelum acara mulai, saya sempat jalan-jalan di dalam mall tersebut. Ada sebuah toko aksesoris yang ingin saya masuki, tetapi kemudian saya urung karena tidak mau tergoda untuk beli. Pernah ke toko serupa, barangnya cukup demanding. Saya ga mau tergoda dan mengeluarkan ratusan ribu. Saya pun ke venue acara. Lupa aksesoris itu.

Eh, ternyata di acara tersebut, saya iseng aja jawab kuis, ternyata hadiah yang saya dapet itu aksesoris yang dijual di toko yang urung saya datangi.

Cerita kedua, kemarin malam, pengen rasanya makan makanan dari resto cepat saji tertentu. Tapi urung juga karena akhirnya memilih masak sendiri.

Keesokan harinya, ada acara dan ternyata disajikan makanan dari resto itu.

Dua keinginan yang terbersit di atas cuma keinginan kecil. Bukan keinginan seperti keinginannya orang ngidam. Bukan juga kebutuhan yang kalau tidak dipenuhi saya bisa mati. Hanya membatin. Atau untuk cerita kedua cuma bilang ke adik. Dua keinginan yang tidak benar-benar saya minta, tetapi kemudian Allah kasih.

Jadi kembali diingatkan bahwa kasih Allah itu luas. Kecil bagi Allah untuk mengabulkan. Kalau sesuatu yang hanya terbersit tak berapa lama saja Allah perkenankan, kalau sesuatu yang tidak kita minta saja Allah berikan, mengapa ragu untuk meminta kepada-Nya?

Mengapa mesti ragu? mengapa merasa tidak layak untuk terus meminta? padahal Ia adalah Tuhan. Maha segalanya. Tempat kita memilin pinta.

Mungkin memang keinginan/cita-cita yang besar itu bukan hanya perlu usaha, tetapi juga pinta yang lebih.

Eksistensi dan Aktivisme

Adakah kaitan antara eksistensi dan aktifisme? Bagi saya ada. Terus terang ini sedang menjadi renungan bagi saya beberapa waktu belakang ini. Saya merasa kurang eksis. Pendeknya begitu. Tetapi sebetulnya, poin saya bukan pada ke-eksis-an diri saya. Sama sekali bukan di situ poin utamanya. Lantas apa?

Bagi saya, eksisnya seseorang, memiliki keterkaitan dengan aktifitas-aktifitas yang dia lakukan. Semakin banyak aktifitas yang dilakukan, semakin banyak peluang untuk bertemu dengan orang-orang baru, menjalin jaringan yang baru, semakin banyak mengenal hal lain dan tentu saja mengenal dan dikenal oleh orang lain.

Menjadi renungan bagi saya ketika saya merasa tidak eksis. Artinya bagi saya, tidak banyak yang saya lakukan dalam kurun waktu terakhir. Tidak banyak aktifitas yang dilakukan dan tentu saja itu ada pengaruhnya dengan produktifitas. Sekali lagi setidaknya itu bagi saya yang melihat kalau lingkaran saya belum bertambah luas. Masih itu-itu saja. Entah lingkaran pertemanan atau pun lingkaran-lingkaran lain. Terus terang ini terasa ketika saya melihat bertambahnya lingkaran pertemanan seorang kawan saya dan memang ada hal-hal yang ia lakukan, tetapi tidak saya lakukan.

So, menurut saya tidak salah ketika seseorang ingin eksis. Mudah-mudahan bukan eksisnya yang menjadi highlight, tetapi lebih dari itu. Mari memperluas lingkaran kita!

Soal cara

kamu boleh kuliah di kampus itu, tapi jangan ikut-ikutan demo. Kamu belajar yang bener, lulus ciptain lapangan kerja, itu sudah lebih dari protes ke pemerintah- Nasihat seorang CEO kepada adiknya.


Saya setuju soal penciptaan lapangan kerja itu lebih dari sekedar protes, tapi untuk soal aksi, dalam hal ini dia menyebut demo, bagi saya ada kalanya memang masih diperlukan.
Karena, adakalanya sebuah aksi massa bukan sekedar protes. But, ini hanya soal cara juga sih.

*jadi ingat masa-masa kuliah tingkat satu dan dua

He Knows

Rasanya saya belum share apa aktifitas saya sehari-hari,pun dengan aktifitas keseharian saya sebelum ini. Nah, sekarang mau cerita nih tentang apa yang saya rasakan mengenai keseharian saya. Hoho.
Dulu sekali, waktu buku harian atau lazim disebut Diary masih jadi ‘mainan’ generasi 90-an, ingat gak kalau pada saling bertukar biodata antar teman?
Salah satu poin dalam biodata tsb adalah cita-cita. Saya ingat betul, tidak hanya menuliskan satu profesi sebagai cita-cita. Di buku si A, pernah nulis mau jadi dokter, di buku lain, gak jarang juga menulis cita-cita sebagai reporter.
Walhamdulillah, kini Allah kasi saya kesempatan untuk itu. Menjadi reporter. Dulu, yang jadi bayangan saya ketika itu adalah betapa asiknya perkerjaan seorang reporter yang banyak melakukan perjalanan juga bertemu banyak orang.
Satu tahun ke belakang memang saya mencoba peruntungan untuk apply pekerjaan di media melalui situs pencarian kerja. Tinggal daftar di situs tersebut, dapat info, apply dan saya terserah aja hasilnya gimana. Tidak ngoyo karena memang saat itu saya bekerja untuk sebuah lembaga.
So far saya masih menikmati aktifitas saya di sebuah majalah bisnis cukup ternama. Senang banyak bertemu orang baru, entah dari liputan atau wawancara-wawancara yang saya lakukan. Banyak insight yang bisa diambil ketika bertemu mereka. Dan ternyata, ritme kerja untuk sebuah majalah dwi-mingguan ini cocok untuk saya.
Kok berlainan dengan bidang yang ditekuni selama kuliah?
Mungkin ada yang mikir tentang ini. Saya pun sejak kuliah gak pernah kebayang untuk terjun ke jurnalistik lagi setelah sebelumnya pernah nyicip pas jaman putih abu. Tapi ternyata Tuhan menunjukkan kemari. So,selama bisa enjoy, bisa petik hikmah, dan tentunya belajar, why not? Apalagi waktunya cocok karena saya gak harus standby 8-5, meski bisa juga pekerjaan baru selesai setelah jam itu. Emang sih, ini bukan akhir pencapaian tentang pekerjaan/kontribusi yang saya inginkan. Sempet kepikir, gimana ya cita-cita yang itu? Beruntungnya, temen saya beropini, bidang ini justru luas, temukan aja linkage-nya, begitu katanya. Dan kemudian saya pun kembali bersemangat. Yeay!
Ah ya, gimana soal finansial?
Jumlahnya emang gak sebanyak yang didapet temen-temen di perusahaan multinasional. Tapi lagi-lagi, rezeki itu udah diatur sama Tuhan. InsyaAllah akan dicukupkan. Ia tahu apa yang dibutuhkan hamba-Nya. Mana tahu kan, kaya saya gini bisa dapet doorprize gadget yang ga pernah kepikir bakal saya kebeli. :p etapi, balik lagi sih ke apa yang ingin diraih dalam hidup. Hoho

Yap, itulah seklumit cerita jurnalis AC kalau kata temen saya. Hehe. Jalani apa yang kiranya kau suka dan dibukakan jalannya sama Dia. Kalau gak suka dan ga ketemu jalannya, tinggalin aja. ;)

Melanglang di Malang

Merasa sangat cupu karena minim melakukan perjalanan, melanglang dan menjelajah, saya bertekad untuk menjejak lebih banyak di bumi-Nya tahun ini. Maka, ajakan untuk melanglang dari kawan saya jelas tidak mau saya lewatkan. Berawal dari obrolan kawan-kawan saya yang manis dan jomblo, yang sama-sama pengen liburan, kami membicarakan beberapa tempat yang bisa masuk list. Akhirnya pilihan jatuh pada Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Karena Bromo letaknya dekat dengan Malang, jauh dari domisili kami di Jakarta, saya mengusulkan bagaimana jika ditambah ke Pulau Sempu. Melihat gambar-gambar Sempu di internet, siapa yang tidak tertarik? Palu pun diketok, 9-12 Maret 2013 waktunya. Perjalanan ke Malang ini jadi perjalanan pertama saya ke Jawa Timur.

Menurut rencana, perjalanan ini mestinya diikuti oleh sekitar 14 orang. Tapi, apa mau dikata, beberapa batal berangkat karena satu dan lain hal. Jadilah kami bersembilan. Saya, Nanda, Widy, Luluk, Terry, Ayu, kemudian adik saya Anis dan temannya, Yorra. Girls trip? Oh tidak sebenarnya. Ada satu lagi peserta, Dudung namanya, kawan Nanda di kantor.

Menurut rencana pula, kami berangkat dengan kereta Matarmaja dari Pasar Senen. Tapi, apa mau dikata pula, ada kisah yang menjadikan kami berlima tidak berjodoh dengan Matarmaja.
Continue reading