Posted by: rifa | September 9, 2008

Politik di Kelas Prof. Iberamsjah

Kemarin adalah pertemuan kedua kami dengan Prof. Iberamsjah di kuliah Pemerintahan dan Politik Desa. Selalu ada yang menarik ketika beliau mengajar, hm, bukan kerena beliau suka menunjuk dan bertanya kepada mahasiswanya yang seringkali kurang siap dan dibuat dag-dig-dug karenanya. Ada cerita menarik, lucu, juga nilai tertentu.

Minggu sebelumnya, beliau bercerita tentang anak menantunya yang melahirkan di Malaysia. Eit, bukan sekedar cerita biasa ternyata. Beliau bercerita, ketika anak menantunya melahirkan disana, anaknya yang lelaki tentu saja suami dari yang melahirkan, disuruh masuk ruangan bersalin agar tahu bagaimana prosesnya sehingga dia akan menjadi suami yang begitu menghargai istrinya. Kedua, pemerintah dan dokter-dokter disana sangat mendorong seorang Ibu untuk menyusui anaknya sampai dua tahun. Tentu kita semua tahu, ASI adalah formula terbaik yang tak tertandingi. Ini investasi jangka panjang lho, karena dengan ASI, akan lahir generasi-generasi yang cemerlang. Makanya, dokter-dokter disana lebih menyarankan kelahiran normal, tidak sperti di negeri kita yang lebih disarankan lahir secara sesar. Apa hubungannya?

Ternyata, kelahiran normal itu mampu memacu agar ASI cepat keluar jadi si ibu langsung bisa menyusui anaknya. Subhanallah.. *saya yang dulu anak IPA baru tau.. hehe* Selain itu, pemerintahnya pun ngasi cuti yang cukup lama, dengan tetap memperoleh gaji, bagi ibu yang habis melahirkan. Wah, mereka bener-bener menyadari yak, hal-hal kecil kayak gini bisa jadi investasi di masa depan.

Cerita Prof. Iberam ga sampe disitu saja, beliau yang berasal dari Kalimantan ini bercerita tentang daerahnya. Tentang potensi di Kalimantan, juga Indonesia. Cerita yang kembali menyadarkan saya betapa negara kita sangat kaya. Kata beliau, sebenarnya Indonesia bisa jadi negara terkaya di dunia. Bayangkan saja, tanah gambut jika digali beberapa senti akan ditemukan batu bara. Sayangnya, ladang gambut di Kalimantan, kebanyakan tidak dimiliki penduduk asli. “Yang punya si Abu Rizal Bakrie tuh. Kurang ajar dia. Beli tanah, dia bisa untung segitu banyak. Penduduk asli tetap miskin. Orang kayak gitu pantesnya diapain yah?” begitu kata Prof. Iberam. Betul, prof!

Yang mengagetkan, beliau pernah mendapatkan hitung-hitungan dari seorang ahli, bahwa dari satu perjanjian asing, negeri kita dirugigkan 750 triliun. Wedeeeh… banyak banget.. itu hanya satu, belum yang lain. Bagaimana kalo perjanjian itu diteruskan sampai 20-30 tahun ke depan, apa yang kita dapat? “Saya heran dengan pemerintah, kenapa ga nasionalisasi aja perusahaan-perusahaan asing itu. Amerika kok ditakuti. Coba liat sejarah, kalo perang, Amerika itu kalah terus! Sama vietnam, bahkan dengan afghanistan dia kalah tuh sebenrnya. Dan lagi, mereka, tiap keluarga anaknya Cuma satu atau dua. Kena tembak satu, bisa habis. Lha kita, anaknya tujuh, kena tembak dua, masih lima!” katanya dengan penuh semangat. “Singapura juga kurang ajar tuh, ngambilin pasir-pasir kita. Perang ama kita kalah deh dia. Penduduknya Cuma 30 juta, kita 210 juta, kalo kita kencingin bareng-bareng, udah tenggelem kali mereka, kena tsunami juga kali..” wkwkwkwk.. bagian ini seisi kelas pada ketawa. Hehe, bisa aja si Profesor ini. “Pemimpin pada ga inget dosa sih. Ga banyak merenung. Pemimpin itu tanggung jawabnya gede..”

Ya, itulah beliau, walopun suka bikin saya dan temen-temen dag-dig-dug (karena suka nanya dan nunjuk tiba-tiba *saya pun kena, ditunjuk jadi ketua kelas, padahal banyak senior*duh), ada cerita-cerita menggelitik yang mengingatkan, kita ini bangsa besar! Pasti Bisa! HARAPAN ITU MASIH ADA!!


Responses

  1. hehehe..gw ketawa gitu bca tulisan lo..
    ternyata prof.iberam itu lucu juga yaa..


Leave a response

Your response:

Categories