Mendadak Phuket

Trip pertama saya ke luar ini memang mendadak. Boleh dibilang ini adalah trip terjauh dengan persiapan tersingkat yang pernah saya lakukan. Kalau biasanya (ceilah, kayak sering banget jalan), paling tidak butuh sebulan untuk menyiapkan perjalanan ngebolang. Sebut saja perjalanan waktu ke Bromo – Sempu, terus ke Baluran – Menjangan, dan Dieng. Semua sudah dirancang sebulan lebih sebelum keberangkatan. Gimana dengan trip ke Phuket kali ini? Yak, cuma dua minggu sodara-sodara! :D

Jalan-jalan ke Phuket ini sebetulnya keinginan adik saya, sebut saja Zaki atau Anis. Dia ngajak temennya, ngajak saya juga. Saya mau aja sih, tapi maunya dalam waktu dekat, bulan Maret aja, kata saya waktu adik ngajak jalan. Waktu itu awal tahun. Tapi dia kayak sulit kalau terlalu cepat, butuh cuti dsb. Eh, tetiba, doi dapet info dari temennya yang punya keanggotaan loyality member Air Asia kalau ada promo ke Phuket, Penang dan mana lagi gitu. Dibuatlah rencana berangkat bulan Mei. Saya saat itu masih mikir-mikir untuk ikut.

Karena mempertimbangkan ini-itu dan dipersuasi, akhirnya saya mengiyakan. Persiapan yang dimulai dengan mencari tiket pun segera dilakukan. Selain saya dan adik saya, Zaki, Widi, Anna, Maya ikut dalam kelompok ini. Rapat via grup whats App pun kami lakukan guna menentukan tanggal yang pas buat semuanya.

Eh, ndilalah, di tanggal yang sudah disepakati, nggak ada tiket yang available buat berenam. Waktu booking tiket udah hampir habis. Bingung dong? Jelas saja. Apalagi waktu itu kami sudah transfer uang ke orang yang akan memesankan tiket. Gak lucu dong kalau bataaalll….. ? Continue reading

Resign

20141221-112503.jpgSalah satu keputusan yang tidak mudah sebetulnya, untuk memilih hengkang dari pekerjaan saya di sebuah majalah. Pun setelahnya kadang terlintas di pikiran, apakah keputusan yang saya ambil benar? Apakah sekedar imbas emosi yang berlebihan?

Bekerja tentu bukan sekedar mencari uang untuk penghidupan, tetapi harus ada hal-hal lain yang kita peroleh. Kebahagian, pembelajaran, misalnya. Setidaknya itu yang saya yakini. Pada akhirnya, ketika ekspektasi sudah tidak terpenuhi lagi dan saya sering mengeluh karenanya, mempertahankannya sepertinya bukan lagi ide yang baik.  Bukan, bukan karena saya tidak suka lagi dengan pekerjaan itu. Apa boleh buat, keengganan untuk meneruskan sudah menghampiri. Kadang dalam benak saya terlintas, rasanya 1,5 tahun lalu agak buang waktu. Tapi buru-buru saya enyahkan pikiran itu dan mulai membangun pikiran bahwa pasti ada yang bisa dipetik, ada hal yang bermanfaat.

Satu hal yang bagi saya cukup berat terasa juga cukup menguras air mata di hari terakhir saya adalah meninggalkan kebersamaan dengan orang-orang yang membersamai selama 1,5 tahun terakhir. Ternyata begini rasanya meninggalkan, tidak mudah untuk begitu saja menghapus hal-hal yang biasanya menjadi rutinitas bersama. Gak ada lagi marathon rapat tiap senin, juga saling kirim pesan via whats App ke Nimas, yang memutuskan keluar lebih dulu beberapa hari. Biasanya hampir tiap hari kami saling tanya : lo ngantor jam berapa? Udah bikin laporan? Haha. Lucu kan, kayak anak baru yang harus punya temen. Yah, begitulah. Kami sering bareng, mulai masuk kerja dengan selisih hari, keluarnya juga. Kalau lagi sama – sama di kantor, kami makan bareng dsb, meja pun sebelahan, sampai sepanjang kami disana orang suka ketuker. Manggil saya dengan namanya, begitu sebaliknya. Padahal kami gak mirip, saya berjilbab dan berkacamata. Dia tidak berjilbab dan tidak pakai kacamata. Hehe. #ehjadipanjangdisini

bersama kawan-kawan, jelang hari terakhir di kantor

bersama kawan-kawan, jelang hari terakhir di kantor

Kemudian, kemana setelahnya?

Mungkin agak konyol kedengarannya ketika saya memutuskan berhenti tetapi belum ada pengganti. Yah, apa boleh buat. Nampaknya memang ketidakbahagiaan saya sudah cukup memuncak. So, I left the job dan menjadi self-employed untuk sementara. Sebenernya pakai term ini karena gak mau dibilang, dan memang juga gak bisa dibilang unemployed. Haha. Alhamdulillah, selepas memutuskan berhenti, ada saja yang menawarkan untuk pengerjaan sesuatu hal baru, yang saya harap ini akan memberi pelajaran buat saya. Tidak sekedar mendapatkan uang tentu saja. Terus terang hal baru ini agak membuat deg-deg-an. Tetapi, selalu ada yang pertama sebelum yang kedua dst bukan? ;)

Wish me luck! Hehe

Bali for a while

20140401-235157.jpg

Terakhir saya ngetrip kalau gak salah ke Dieng, mendekati Idul Adha tahun lalu. Cuman memang gak saya posting di sini. Sebelum Dieng, saya sempat juga trip ke beberapa tempat, Anak Krakatau kemudian TN Baluran dan lanjut ke Menjangan, Bali Barat. Waktu itu niatnya mau ditulis, setidaknya buat kenang-kenangan, tapi ketunda akhirnya gagal sampai sekarang. Hehe. Sayang sih sebetulnya, karena menarik.

Nah, minggu kemarin, kebetulan saya dapet tugas untuk dateng di acaranya sebuah perusahaan TI yang pusatnya di US. Ini yang ngundang cabangnya di Indonesia, undangan untuk beberapa media. Sebetulnya saya tidak begitu excited, karena satu dan lain hal. Tetapi, penugasan luar kota sebelumnya, saya nolak. Jadi gak enak kalau nolak lagi. Baiklah, nikmati saja akhirnya.
Continue reading

Seklumit di hari terakhir IBF 2014

Islamic Book Fair buat saya, semacam event tahunan yang gak boleh kelewat. Meskipun, saya sadari, hobi saya lebih tepat dibilang belanja buku ketimbang menamatkannya. Karena memang, beberapa buku yang dibeli tahun lalu belum tersentuh, bahkan masih dibungkus plastiknya. Parah emang sih hahaha.

Meski sadar kalau saya harusnya menghabiskan buku-buku yang belum terbaca dulu, saya tetap merasa gak boleh melewatkan IBF tahun ini, yang seperti biasa digelar di Istora Senayan. Akhirnya, dengan kondisi yang sebetulnya saat itu kurang fit, saya tetap jalan ke istora, sendirian di hari terakhir, Ahad siang yang sedikit terik. Gak apalah sendirian, lebih bebas mau keliling ke stand mana saja dan berapa lama. :)

Hasilnya, apa saja yang saya beli? Saya cuma beli dua buku loh, itu pun novel semua yang saya beli karena sudah baca edisi pertamanya, jadi penasaran kelanjutannya. Saya sadar, beberapa buku belum terbaca dan saya sudah tidak ada space lagi untuk menaruh buku-buku itu kalau saya beli lagi saat itu. hehe

Gak ngeborong buku, ternyata ga membuat saya gak puas datang. Nyatanya, saya tetap puas karena bisa menikmati suguhan acara pada hari itu. Berikut secara ringkas apa yang saya dapat:
Continue reading

Pinta

Sedikit berbagi tentang yang saya alami belum lama ini tentang mahabaiknya Allah. Dalam kurun waktu yang tak sampai seminggu, rasanya Allah mengabulkan keinginan saya yang bahkan tidak terucap. Hanya terbesit, di batin saya.

Cerita sedikit ga apa deh ya,

Jadi ceritanya saya minggu lalu liputan sebuah acara. Kebetulan tempatnya di Mall. Karena masih ada waktu sebelum acara mulai, saya sempat jalan-jalan di dalam mall tersebut. Ada sebuah toko aksesoris yang ingin saya masuki, tetapi kemudian saya urung karena tidak mau tergoda untuk beli. Pernah ke toko serupa, barangnya cukup demanding. Saya ga mau tergoda dan mengeluarkan ratusan ribu. Saya pun ke venue acara. Lupa aksesoris itu.

Eh, ternyata di acara tersebut, saya iseng aja jawab kuis, ternyata hadiah yang saya dapet itu aksesoris yang dijual di toko yang urung saya datangi.

Cerita kedua, kemarin malam, pengen rasanya makan makanan dari resto cepat saji tertentu. Tapi urung juga karena akhirnya memilih masak sendiri.

Keesokan harinya, ada acara dan ternyata disajikan makanan dari resto itu.

Dua keinginan yang terbersit di atas cuma keinginan kecil. Bukan keinginan seperti keinginannya orang ngidam. Bukan juga kebutuhan yang kalau tidak dipenuhi saya bisa mati. Hanya membatin. Atau untuk cerita kedua cuma bilang ke adik. Dua keinginan yang tidak benar-benar saya minta, tetapi kemudian Allah kasih.

Jadi kembali diingatkan bahwa kasih Allah itu luas. Kecil bagi Allah untuk mengabulkan. Kalau sesuatu yang hanya terbersit tak berapa lama saja Allah perkenankan, kalau sesuatu yang tidak kita minta saja Allah berikan, mengapa ragu untuk meminta kepada-Nya?

Mengapa mesti ragu? mengapa merasa tidak layak untuk terus meminta? padahal Ia adalah Tuhan. Maha segalanya. Tempat kita memilin pinta.

Mungkin memang keinginan/cita-cita yang besar itu bukan hanya perlu usaha, tetapi juga pinta yang lebih.

Eksistensi dan Aktivisme

Adakah kaitan antara eksistensi dan aktifisme? Bagi saya ada. Terus terang ini sedang menjadi renungan bagi saya beberapa waktu belakang ini. Saya merasa kurang eksis. Pendeknya begitu. Tetapi sebetulnya, poin saya bukan pada ke-eksis-an diri saya. Sama sekali bukan di situ poin utamanya. Lantas apa?

Bagi saya, eksisnya seseorang, memiliki keterkaitan dengan aktifitas-aktifitas yang dia lakukan. Semakin banyak aktifitas yang dilakukan, semakin banyak peluang untuk bertemu dengan orang-orang baru, menjalin jaringan yang baru, semakin banyak mengenal hal lain dan tentu saja mengenal dan dikenal oleh orang lain.

Menjadi renungan bagi saya ketika saya merasa tidak eksis. Artinya bagi saya, tidak banyak yang saya lakukan dalam kurun waktu terakhir. Tidak banyak aktifitas yang dilakukan dan tentu saja itu ada pengaruhnya dengan produktifitas. Sekali lagi setidaknya itu bagi saya yang melihat kalau lingkaran saya belum bertambah luas. Masih itu-itu saja. Entah lingkaran pertemanan atau pun lingkaran-lingkaran lain. Terus terang ini terasa ketika saya melihat bertambahnya lingkaran pertemanan seorang kawan saya dan memang ada hal-hal yang ia lakukan, tetapi tidak saya lakukan.

So, menurut saya tidak salah ketika seseorang ingin eksis. Mudah-mudahan bukan eksisnya yang menjadi highlight, tetapi lebih dari itu. Mari memperluas lingkaran kita!

Soal cara

kamu boleh kuliah di kampus itu, tapi jangan ikut-ikutan demo. Kamu belajar yang bener, lulus ciptain lapangan kerja, itu sudah lebih dari protes ke pemerintah- Nasihat seorang CEO kepada adiknya.


Saya setuju soal penciptaan lapangan kerja itu lebih dari sekedar protes, tapi untuk soal aksi, dalam hal ini dia menyebut demo, bagi saya ada kalanya memang masih diperlukan.
Karena, adakalanya sebuah aksi massa bukan sekedar protes. But, ini hanya soal cara juga sih.

*jadi ingat masa-masa kuliah tingkat satu dan dua