(Semi) Solo Travelling : Melaka

Apa jadinya kalau sudah beli tiket untuk backpacker-an dan ternyata teman seperjalanan kita yang Cuma satu-satunya batal berangkat? Batal berangkat juga atau tetap jalan meski sendirian?

Kalau saya, saya memilih untuk tetap jalan meski si dia tidak jadi berangkat.

Sekitar awal tahun 2016, adik saya yang mengikuti berbagai grup backpacker, dapat info kalau ada β€˜eror’ di tra**l*ka. Tiket KL – HK pp 500 ribu saja. Siapa yang bisa nolak coba? Alhasil kami berdua booking tiket untuk Mei 2016. Sayangnya, karena satu dan lain hal, adik saya membatalkan keberangkatannya.

Sejujurnya agak berat kalau saya mesti jalan sendiri, tapi, sayang juga kalau tiketnya hangus gitu aja. Akhirnya, saya tetap jadi berangkat. Pernah suatu kali saya berpikir, sepertinya perlu untuk melakukan perjalanan sendirian ke tempat yang baru. Rupanya, ini saatnya! Uyeaah.

Tapi, apakah saya benar-benar sendirian?

Continue reading

Nothing Wrong with Failure

failure3

Dari judulnya, postingan ini sudah ketebak lah ya, mengarah kemana. Betul. Saya baru saja mengalami kegagalan yang kedua dalam seleksi substansi beasiswa LPDP. Sebagian besar dari pembaca mungkin cukup familiar dengan LPDP. LPDP adalah Lembaga Pengelola Dana Pendidikan yang salah satu fungsinya adalah mengelola dana untuk beasiswa magister dan doktoral, baik dalam dan luar negeri. Lebih lanjut tentang LPDP silakan dicari di situs yang bersangkutan. Continue reading

Terima kasih sudah menemani selama 3tahun lebih ~~

HP di foto ini adalah Samsung Galaxy Wonder, smartphone pertama yang saya beli tiga tahunan lalu. Overall lumayan lah, meski gonta ganti baterai beberapa kali πŸ˜…. Akhirnya sekarang saya putuskan utk ganti, bukan saja karena sdh cukup lama (masih pake android 2.3!), tapi juga sudah lemot dan kadang bikin emosi wkwkwk. Alhamdulillah masih terbantu dg gadget lain. Yah, gimana pun, tetep sesuatu lah pake hape ini, hihi. Semoga sesuatu juga pas pake gantinya. Buat saya, interaksi (?) dengan hape itu gak sebatas memanfaatkan fungsinya saja karena lambat laun semacam ada ikatan batin (?) dengan si hape *lebay hahaha. Blm lagi ngatur2 supaya kita nyaman pakenya. Jadi yaa gitu deh… agak agak ga gampang 😜

View on Path

Mendadak Phuket

Trip pertama saya ke luar ini memang mendadak. Boleh dibilang ini adalah trip terjauh dengan persiapan tersingkat yang pernah saya lakukan. Kalau biasanya (ceilah, kayak sering banget jalan), paling tidak butuh sebulan untuk menyiapkan perjalanan ngebolang. Sebut saja perjalanan waktu ke Bromo – Sempu, terus ke Baluran – Menjangan, dan Dieng. Semua sudah dirancang sebulan lebih sebelum keberangkatan. Gimana dengan trip ke Phuket kali ini? Yak, cuma dua minggu sodara-sodara! πŸ˜€

Jalan-jalan ke Phuket ini sebetulnya keinginan adik saya, sebut saja Zaki atau Anis. Dia ngajak temennya, ngajak saya juga. Saya mau aja sih, tapi maunya dalam waktu dekat, bulan Maret aja, kata saya waktu adik ngajak jalan. Waktu itu awal tahun. Tapi dia kayak sulit kalau terlalu cepat, butuh cuti dsb. Eh, tetiba, doi dapet info dari temennya yang punya keanggotaan loyality member Air Asia kalau ada promo ke Phuket, Penang dan mana lagi gitu. Dibuatlah rencana berangkat bulan Mei. Saya saat itu masih mikir-mikir untuk ikut.

Karena mempertimbangkan ini-itu dan dipersuasi, akhirnya saya mengiyakan. Persiapan yang dimulai dengan mencari tiket pun segera dilakukan. Selain saya dan adik saya, Zaki, Widi, Anna, Maya ikut dalam kelompok ini. Rapat via grup whats App pun kami lakukan guna menentukan tanggal yang pas buat semuanya.

Eh, ndilalah, di tanggal yang sudah disepakati, nggak ada tiket yang available buat berenam. Waktu booking tiket udah hampir habis. Bingung dong? Jelas saja. Apalagi waktu itu kami sudah transfer uang ke orang yang akan memesankan tiket. Gak lucu dong kalau bataaalll….. ? Continue reading

Resign

20141221-112503.jpgSalah satu keputusan yang tidak mudah sebetulnya, untuk memilih hengkang dari pekerjaan saya di sebuah majalah. Pun setelahnya kadang terlintas di pikiran, apakah keputusan yang saya ambil benar? Apakah sekedar imbas emosi yang berlebihan?

Bekerja tentu bukan sekedar mencari uang untuk penghidupan, tetapi harus ada hal-hal lain yang kita peroleh. Kebahagian, pembelajaran, misalnya. Setidaknya itu yang saya yakini. Pada akhirnya, ketika ekspektasi sudah tidak terpenuhi lagi dan saya sering mengeluh karenanya, mempertahankannya sepertinya bukan lagi ide yang baik.Β  Bukan, bukan karena saya tidak suka lagi dengan pekerjaan itu. Apa boleh buat, keengganan untuk meneruskan sudah menghampiri. Kadang dalam benak saya terlintas, rasanya 1,5 tahun lalu agak buang waktu. Tapi buru-buru saya enyahkan pikiran itu dan mulai membangun pikiran bahwa pasti ada yang bisa dipetik, ada hal yang bermanfaat.

Satu hal yang bagi saya cukup berat terasa juga cukup menguras air mata di hari terakhir saya adalah meninggalkan kebersamaan dengan orang-orang yang membersamai selama 1,5 tahun terakhir. Ternyata begini rasanya meninggalkan, tidak mudah untuk begitu saja menghapus hal-hal yang biasanya menjadi rutinitas bersama. Gak ada lagi marathon rapat tiap senin, juga saling kirim pesan via whats App ke Nimas, yang memutuskan keluar lebih dulu beberapa hari. Biasanya hampir tiap hari kami saling tanya : lo ngantor jam berapa? Udah bikin laporan? Haha. Lucu kan, kayak anak baru yang harus punya temen. Yah, begitulah. Kami sering bareng, mulai masuk kerja dengan selisih hari, keluarnya juga. Kalau lagi sama – sama di kantor, kami makan bareng dsb, meja pun sebelahan, sampai sepanjang kami disana orang suka ketuker. Manggil saya dengan namanya, begitu sebaliknya. Padahal kami gak mirip, saya berjilbab dan berkacamata. Dia tidak berjilbab dan tidak pakai kacamata. Hehe. #ehjadipanjangdisini

bersama kawan-kawan, jelang hari terakhir di kantor

bersama kawan-kawan, jelang hari terakhir di kantor

Kemudian, kemana setelahnya?

Mungkin agak konyol kedengarannya ketika saya memutuskan berhenti tetapi belum ada pengganti. Yah, apa boleh buat. Nampaknya memang ketidakbahagiaan saya sudah cukup memuncak. So, I left the job dan menjadi self-employed untuk sementara. Sebenernya pakai term ini karena gak mau dibilang, dan memang juga gak bisa dibilang unemployed. Haha. Alhamdulillah, selepas memutuskan berhenti, ada saja yang menawarkan untuk pengerjaan sesuatu hal baru, yang saya harap ini akan memberi pelajaran buat saya. Tidak sekedar mendapatkan uang tentu saja. Terus terang hal baru ini agak membuat deg-deg-an. Tetapi, selalu ada yang pertama sebelum yang kedua dst bukan? πŸ˜‰

Wish me luck! Hehe

Bali for a while

20140401-235157.jpg

Terakhir saya ngetrip kalau gak salah ke Dieng, mendekati Idul Adha tahun lalu. Cuman memang gak saya posting di sini. Sebelum Dieng, saya sempat juga trip ke beberapa tempat, Anak Krakatau kemudian TN Baluran dan lanjut ke Menjangan, Bali Barat. Waktu itu niatnya mau ditulis, setidaknya buat kenang-kenangan, tapi ketunda akhirnya gagal sampai sekarang. Hehe. Sayang sih sebetulnya, karena menarik.

Nah, minggu kemarin, kebetulan saya dapet tugas untuk dateng di acaranya sebuah perusahaan TI yang pusatnya di US. Ini yang ngundang cabangnya di Indonesia, undangan untuk beberapa media. Sebetulnya saya tidak begitu excited, karena satu dan lain hal. Tetapi, penugasan luar kota sebelumnya, saya nolak. Jadi gak enak kalau nolak lagi. Baiklah, nikmati saja akhirnya.
Continue reading

Seklumit di hari terakhir IBF 2014

Islamic Book Fair buat saya, semacam event tahunan yang gak boleh kelewat. Meskipun, saya sadari, hobi saya lebih tepat dibilang belanja buku ketimbang menamatkannya. Karena memang, beberapa buku yang dibeli tahun lalu belum tersentuh, bahkan masih dibungkus plastiknya. Parah emang sih hahaha.

Meski sadar kalau saya harusnya menghabiskan buku-buku yang belum terbaca dulu, saya tetap merasa gak boleh melewatkan IBF tahun ini, yang seperti biasa digelar di Istora Senayan. Akhirnya, dengan kondisi yang sebetulnya saat itu kurang fit, saya tetap jalan ke istora, sendirian di hari terakhir, Ahad siang yang sedikit terik. Gak apalah sendirian, lebih bebas mau keliling ke stand mana saja dan berapa lama. πŸ™‚

Hasilnya, apa saja yang saya beli? Saya cuma beli dua buku loh, itu pun novel semua yang saya beli karena sudah baca edisi pertamanya, jadi penasaran kelanjutannya. Saya sadar, beberapa buku belum terbaca dan saya sudah tidak ada space lagi untuk menaruh buku-buku itu kalau saya beli lagi saat itu. hehe

Gak ngeborong buku, ternyata ga membuat saya gak puas datang. Nyatanya, saya tetap puas karena bisa menikmati suguhan acara pada hari itu. Berikut secara ringkas apa yang saya dapat:
Continue reading

Pinta

Sedikit berbagi tentang yang saya alami belum lama ini tentang mahabaiknya Allah. Dalam kurun waktu yang tak sampai seminggu, rasanya Allah mengabulkan keinginan saya yang bahkan tidak terucap. Hanya terbesit, di batin saya.

Cerita sedikit ga apa deh ya,

Jadi ceritanya saya minggu lalu liputan sebuah acara. Kebetulan tempatnya di Mall. Karena masih ada waktu sebelum acara mulai, saya sempat jalan-jalan di dalam mall tersebut. Ada sebuah toko aksesoris yang ingin saya masuki, tetapi kemudian saya urung karena tidak mau tergoda untuk beli. Pernah ke toko serupa, barangnya cukup demanding. Saya ga mau tergoda dan mengeluarkan ratusan ribu. Saya pun ke venue acara. Lupa aksesoris itu.

Eh, ternyata di acara tersebut, saya iseng aja jawab kuis, ternyata hadiah yang saya dapet itu aksesoris yang dijual di toko yang urung saya datangi.

Cerita kedua, kemarin malam, pengen rasanya makan makanan dari resto cepat saji tertentu. Tapi urung juga karena akhirnya memilih masak sendiri.

Keesokan harinya, ada acara dan ternyata disajikan makanan dari resto itu.

Dua keinginan yang terbersit di atas cuma keinginan kecil. Bukan keinginan seperti keinginannya orang ngidam. Bukan juga kebutuhan yang kalau tidak dipenuhi saya bisa mati. Hanya membatin. Atau untuk cerita kedua cuma bilang ke adik. Dua keinginan yang tidak benar-benar saya minta, tetapi kemudian Allah kasih.

Jadi kembali diingatkan bahwa kasih Allah itu luas. Kecil bagi Allah untuk mengabulkan. Kalau sesuatu yang hanya terbersit tak berapa lama saja Allah perkenankan, kalau sesuatu yang tidak kita minta saja Allah berikan, mengapa ragu untuk meminta kepada-Nya?

Mengapa mesti ragu? mengapa merasa tidak layak untuk terus meminta? padahal Ia adalah Tuhan. Maha segalanya. Tempat kita memilin pinta.

Mungkin memang keinginan/cita-cita yang besar itu bukan hanya perlu usaha, tetapi juga pinta yang lebih.

Eksistensi dan Aktivisme

Adakah kaitan antara eksistensi dan aktifisme? Bagi saya ada. Terus terang ini sedang menjadi renungan bagi saya beberapa waktu belakang ini. Saya merasa kurang eksis. Pendeknya begitu. Tetapi sebetulnya, poin saya bukan pada ke-eksis-an diri saya. Sama sekali bukan di situ poin utamanya. Lantas apa?

Bagi saya, eksisnya seseorang, memiliki keterkaitan dengan aktifitas-aktifitas yang dia lakukan. Semakin banyak aktifitas yang dilakukan, semakin banyak peluang untuk bertemu dengan orang-orang baru, menjalin jaringan yang baru, semakin banyak mengenal hal lain dan tentu saja mengenal dan dikenal oleh orang lain.

Menjadi renungan bagi saya ketika saya merasa tidak eksis. Artinya bagi saya, tidak banyak yang saya lakukan dalam kurun waktu terakhir. Tidak banyak aktifitas yang dilakukan dan tentu saja itu ada pengaruhnya dengan produktifitas. Sekali lagi setidaknya itu bagi saya yang melihat kalau lingkaran saya belum bertambah luas. Masih itu-itu saja. Entah lingkaran pertemanan atau pun lingkaran-lingkaran lain. Terus terang ini terasa ketika saya melihat bertambahnya lingkaran pertemanan seorang kawan saya dan memang ada hal-hal yang ia lakukan, tetapi tidak saya lakukan.

So, menurut saya tidak salah ketika seseorang ingin eksis. Mudah-mudahan bukan eksisnya yang menjadi highlight, tetapi lebih dari itu. Mari memperluas lingkaran kita!

Soal cara

kamu boleh kuliah di kampus itu, tapi jangan ikut-ikutan demo. Kamu belajar yang bener, lulus ciptain lapangan kerja, itu sudah lebih dari protes ke pemerintah- Nasihat seorang CEO kepada adiknya.


Saya setuju soal penciptaan lapangan kerja itu lebih dari sekedar protes, tapi untuk soal aksi, dalam hal ini dia menyebut demo, bagi saya ada kalanya memang masih diperlukan.
Karena, adakalanya sebuah aksi massa bukan sekedar protes. But, ini hanya soal cara juga sih.

*jadi ingat masa-masa kuliah tingkat satu dan dua

He Knows

Rasanya saya belum share apa aktifitas saya sehari-hari,pun dengan aktifitas keseharian saya sebelum ini. Nah, sekarang mau cerita nih tentang apa yang saya rasakan mengenai keseharian saya. Hoho.
Dulu sekali, waktu buku harian atau lazim disebut Diary masih jadi ‘mainan’ generasi 90-an, ingat gak kalau pada saling bertukar biodata antar teman?
Salah satu poin dalam biodata tsb adalah cita-cita. Saya ingat betul, tidak hanya menuliskan satu profesi sebagai cita-cita. Di buku si A, pernah nulis mau jadi dokter, di buku lain, gak jarang juga menulis cita-cita sebagai reporter.
Walhamdulillah, kini Allah kasi saya kesempatan untuk itu. Menjadi reporter. Dulu, yang jadi bayangan saya ketika itu adalah betapa asiknya perkerjaan seorang reporter yang banyak melakukan perjalanan juga bertemu banyak orang.
Satu tahun ke belakang memang saya mencoba peruntungan untuk apply pekerjaan di media melalui situs pencarian kerja. Tinggal daftar di situs tersebut, dapat info, apply dan saya terserah aja hasilnya gimana. Tidak ngoyo karena memang saat itu saya bekerja untuk sebuah lembaga.
So far saya masih menikmati aktifitas saya di sebuah majalah bisnis cukup ternama. Senang banyak bertemu orang baru, entah dari liputan atau wawancara-wawancara yang saya lakukan. Banyak insight yang bisa diambil ketika bertemu mereka. Dan ternyata, ritme kerja untuk sebuah majalah dwi-mingguan ini cocok untuk saya.
Kok berlainan dengan bidang yang ditekuni selama kuliah?
Mungkin ada yang mikir tentang ini. Saya pun sejak kuliah gak pernah kebayang untuk terjun ke jurnalistik lagi setelah sebelumnya pernah nyicip pas jaman putih abu. Tapi ternyata Tuhan menunjukkan kemari. So,selama bisa enjoy, bisa petik hikmah, dan tentunya belajar, why not? Apalagi waktunya cocok karena saya gak harus standby 8-5, meski bisa juga pekerjaan baru selesai setelah jam itu. Emang sih, ini bukan akhir pencapaian tentang pekerjaan/kontribusi yang saya inginkan. Sempet kepikir, gimana ya cita-cita yang itu? Beruntungnya, temen saya beropini, bidang ini justru luas, temukan aja linkage-nya, begitu katanya. Dan kemudian saya pun kembali bersemangat. Yeay!
Ah ya, gimana soal finansial?
Jumlahnya emang gak sebanyak yang didapet temen-temen di perusahaan multinasional. Tapi lagi-lagi, rezeki itu udah diatur sama Tuhan. InsyaAllah akan dicukupkan. Ia tahu apa yang dibutuhkan hamba-Nya. Mana tahu kan, kaya saya gini bisa dapet doorprize gadget yang ga pernah kepikir bakal saya kebeli. :p etapi, balik lagi sih ke apa yang ingin diraih dalam hidup. Hoho

Yap, itulah seklumit cerita jurnalis AC kalau kata temen saya. Hehe. Jalani apa yang kiranya kau suka dan dibukakan jalannya sama Dia. Kalau gak suka dan ga ketemu jalannya, tinggalin aja. πŸ˜‰

Melanglang di Malang

Merasa sangat cupu karena minim melakukan perjalanan, melanglang dan menjelajah, saya bertekad untuk menjejak lebih banyak di bumi-Nya tahun ini. Maka, ajakan untuk melanglang dari kawan saya jelas tidak mau saya lewatkan. Berawal dari obrolan kawan-kawan saya yang manis dan jomblo, yang sama-sama pengen liburan, kami membicarakan beberapa tempat yang bisa masuk list. Akhirnya pilihan jatuh pada Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Karena Bromo letaknya dekat dengan Malang, jauh dari domisili kami di Jakarta, saya mengusulkan bagaimana jika ditambah ke Pulau Sempu. Melihat gambar-gambar Sempu di internet, siapa yang tidak tertarik? Palu pun diketok, 9-12 Maret 2013 waktunya. Perjalanan ke Malang ini jadi perjalanan pertama saya ke Jawa Timur.

Menurut rencana, perjalanan ini mestinya diikuti oleh sekitar 14 orang. Tapi, apa mau dikata, beberapa batal berangkat karena satu dan lain hal. Jadilah kami bersembilan. Saya, Nanda, Widy, Luluk, Terry, Ayu, kemudian adik saya Anis dan temannya, Yorra. Girls trip? Oh tidak sebenarnya. Ada satu lagi peserta, Dudung namanya, kawan Nanda di kantor.

Menurut rencana pula, kami berangkat dengan kereta Matarmaja dari Pasar Senen. Tapi, apa mau dikata pula, ada kisah yang menjadikan kami berlima tidak berjodoh dengan Matarmaja.
Continue reading

Habibie-Ainun; antara buku dan film

Akhir tahun lalu, masyarakat Indonesia disuguhkan beberapa film yang menarik. Diantaranya adalah Habibie-Ainun yang diangkat dari buku yang ditulis langsung oleh Pak Habibie yang menceritakan kisahnya dengan separuh jiwanya, Ibu Ainun.
Sebelum filmnya tayang, sengaja saya baca bukunya. Dengan niatan agar bisa merasakan beda antara tulisan dan visualnya. Menurut saya, buku tersebut menarik. Meski di awal saya kurang begitu bersemangat untuk segera menyelesaikan.
Continue reading

Catatan Android-user : memanfaatkan

Image Postingan berikut ini merupakan seri kedua dari catatan android-user. Nah, setelah sebelumnya saya membahas mengenai bagaimana memilih henpon android, apa saja yang dipertimbangkan, berikut saya akan berbagi mengenai bagaimana saya memanfaatkan henpon android yang saya pakai, melalui aplikasi-aplikasi yang saya pasang dan kemudian saya pergunakan.

Pada postingan sebelumnya, saya katakan bahwa saya tidak hanya ingin menggunakan henpon hanya untuk telepon dan sms saja, saya sebutkan, saya ingin bisa buat baca-baca dan juga ketik-ketik, selain bersocmed tentunya. :p Pendeknya, saya ingin bisa melakukan banyak hal dari gadget yang saya miliki.

Terkait penggunaan, tentu tidak lepas dari kebutuhan. Coba tanya diri sendiri, kira-kira apa saja yang dibutuhkan. Kalau menurut saya, setidaknya, bisa memenuhi kebutuhan untuk, berinternet (tergantung juga akhirnya dengan paket data internet dari provider HP yang digunakan) – baik cari informasi maupun bersosial media, mencatat, mengabadikan momen.

Berikut opini saya tentang aplikasi yang menurut saya perlu untuk di download dan install.

1. office. kalau butuh baca doang, biasanya aplikasi bawaan hp kayak polaris office, itu cukup. tapi kalo butuh utak atik, bisa coba Kingsoft Office.

2. camera. di android market, jumlah aplikasi yang berkaitan dengan kamera, banyaaak banget. tapi menurut saya yang paling oke adalah cymera. kalau mau gabungin foto, pake photogrid bagus juga.

3. socmed. ini nih yang biasanya paling banyak dipake sama pengguna smartphone. macamnya juga banyak banget daftar yang sekiranya menarik banget dan banyak dipake aja. kalo socmed yang ga terlalu rame (dalam artian gak banyak temen kita yang pake) ya gak usah aja. Umumnya fb, instagram, path, twitter sih. Nah, untuk fb dan twitter, aplikasinya jg banyak. Tapi kalau saya lbh suka buka fb pake browser ky opera mini aja ketimbang aplikasi fb, tapi emang gak jadi dapet notif secara update sih. Untuk twitter, saya senang pake ubersocial for android.

4. messenger.Β Aplikasi ini juga gak kalah banyaknya di android market. Temen-temen bisa install sesuai kebutuhan saja. GTalk, Yahoo Messenger, Whats App, LINE, dsb-nya. Kalau saya sih cukup empat messenger itu aja. Selebihnya, sesuai selera aja. Asal dipake aja sih.

5.Aplikasi terkait Ibadah. Nah, ini juga gak kalah penting dari lainnya. Al Qur;an misalnya, saya rekomendasikan Quran for Android. Pilihan lainnya juga banyak. dilihat-lihat aja. Beberapa aplikasi lain, bisa tengok buatan kawan-kawan di Badr Interactive, diantaranya evaluasi ibadah.

Penting untuk dicatat, sebaiknya install sesuai kebutuhan saja. Kalau gak terlalu dipakai, mending gak usah, apalagi Game, satu-dua cukup lah. πŸ˜€ Kenapa? karena lebih banyak aplikasi sering kali bikin sistem jadi lemot. Begitu teman-teman, sedikit review dari penikmat android alakadarnya seperti saya. Selamat memilih. πŸ™‚

gambar dari sini

Catatan Android-user : memilih

Saya bukan expertise di bidang teknologi, tapi hal-hal berbau teknologi yang berkaitan dengan komputer dan semacamnya menarik minat tersendiri bagi saya. Maka izinkan saya yang ingin berbagi tentang pengalaman saya menggunakan android. Postingan ini sebetulnya terilham ketika satu-dua orang bertanya kepada saya.

Boleh dibilang saya belum lama menggunakan smartphone, khususnya yang berbasis android. Baru sekitar 6 bulan. Masih tergolong baru bukan ? yak, sebelum-sebelumnya memang saya sudah mengincar ponsel berbasis android, tetapi karena henpon saya waktu itu masih cukup oke, masih bisa mencukupi kebutuhan, juga karena belum punya duit sih saya akhirnya baru beli beberapa waktu kemudian setelah henpon saya hilang.

Mungkin ada yang bertanya, baiknya beli seperti apa? Selain menyesuaikan budget yang akan dipakai, tentu ada pertimbangan-pertimbangan lain. Tapi yang paling memengaruhi bagi kebanyakan orang mungkin soal budget ini. Nah, apa saja yang perlu diperhatikan selain budget? Mostly terkait kebutuhan sih biasanya. Poin-poin berikut bisa jadi masukan.

Continue reading