Ketika Harus Berada pada Kondisi yang Tak Biasa

Tidak terbiasa dan mengalami kesusahan adalah hal yang wajar ketika kita harus melakukan sesuatu yang baru. Begitu pula dengan saya, Namun, apakah dengan keadaan tersebut kita mundur saja dari hal yang tidak biasa kita lakukan itu? Tentu saja jawabannya tidak.

Setidaknya, itulah yang saya lakukan. Berusaha untuk tetap survive dengan keadaan baru yang memaksa saya demikian (halah.. apa sih?). Ya, beberapa hari ini, saya membiasakan mata saya tanpa kacamata. Bukan kenapa-kenapa, tapi alasan tepatnya sih karena kacamata saya sedikit tidak nyaman dipake dan belum sempat dibawa sama ibu saya ke optik. Masih bisa dipakai, tapi, biarlah, ibu saya saja yang simpan dulu untuk sementara. Ya, itung-itung latihan ga pake kacamata.

Sejauh ini sih saya ga menemukan kesulitan yang berarti, hanya kurang jelas saja kalo liat tulisan di tv, di jalan (selagi saya di jalan), atau ga cepet ngeh pas ketemu sama orang yang saya kenal (ya iyalah, wong mata saya ga normal). Makanya, saya suka ga enak kalo orang yang saya temui secara tidak langsung bilang, “sombong amat, ketemu ga nyapa.” Maap mbak, mas, adik, kakak, om, tante, bapak, ibu, lihatlah, saya tanpa kacamata. Hihi.

Hal lain yang harus saya alami adalah berada dalam kondisi yang memaksa saya untuk ‘bekerja’ tidak sesuai dengan ‘pekerjaan’ saya. Hah? Emang Rifa kerja? Hoho, gak, bukan itu. Liburan kali ini saya isi dengan kepanitiaan sebuah kegiatan yang diadakan SINTESA. Satu Ikatan Tegal Bersaudara. Sebuah organisasi mahasiswa jabotabek (khususnya UI sih) asal Tegal dan sekitarnya (Slawi dan Brebes). Seperti sebelumnya, tahun ini SINTESA akan kembali mengadakan kegiatan yang ditujukan untuk anak SMA. Bukan try out, karena try out udah diadakan awal tahun ajaran baru lalu. Pertengahan Januari nanti kami akan ‘membawa’ adik-adik SMA ke UI. Untuk sekedar liat-liat, mengetahui lebih banyak, dan harapannya kemudian mereka menjadi termotivasi untuk kuliah di UI. Selama ini masih belum banyak anak Tegal yang kuliah di UI. (setidaknya dibanding anak-anak Sumbar dengan IMAMI-nya dan Kebumen dengan Perhimak-nya). Kegiatan tersebut namanya ‘Tour de UI’.

Di kepanitiaan ini, saya diamanahi untuk jadi PJ Acara. Waduh, ini pertama kalinya nih di kepanitiaan ngurusin Acara. Sebelumnya, saya lebih sering menggawangi Humas. Jelas, saya belum terbiasa dengan menentukan tema kegiatan, menentukan konsep acara, tentuin pengisi acara, bikin jadwal, ngecek-ngecek semuanya, dll. Jujur saja, saya agak takut kalo-kalo acara ini ga berhasil. Abis, saya suka kurang teliti dan jeli sih. Haduh, pertanggungjawabannya kan di hadapan panitia aja…

Harusnya sih saya ga boleh takut ya. Apalagi kalo takut berlebihan. Ini kan sebuah tantangan dan juga kesempatan buat saya untuk belajar. Hmpfh, mudah-mudahan saya bisa belajar dan mengambil manfaat dari kondisi yang berbeda ini. Amiin.

3 thoughts on “Ketika Harus Berada pada Kondisi yang Tak Biasa

  1. PJ yah?

    Hmm… Tantangan itu namanya Jeng…😀
    Tapi yang jelas jdi PJ itu amanahnya lebih berat bila dibandingkan dengan kepanitiian biasa seperti yg tahun lalu jeng rifa tinggalkan karena demo…😛

    Semangkaa!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s