Daya Kritis yang Tak Boleh Mati

         Berpikir kritis itu apa? Berpikir sampai pusing! Ini jawaban yang begitu saja meluncur dari mulut teman saya ketika OAT (Organization and Academic Training—pelatihan yang diadakan Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik untuk mahasiswa baru Dept. Ilmu Politik FISIP UI) dulu. Ketika kami mendapat materi tentang berpikir kritis. Tapi, kayaknya tiap orang punya jawaban yang berbeda tentang berpikir kritis ini.

          Lantas, apa tujuan dari berpikir kritis itu? Berpikir kritis tentu bukan sebatas pemikiran yang selintas kemudian selesai begitu saja. Berpikir kritis tidak mengenal kata puas ketika sebuah pernyataan terlontar. Pemikiran kritis yang terus diasah, akan dapat melahirkan hal-hal baru yang mungkin belum pernah ada sebelumnya. Hal-hal baru yang mungkin dianggap ‘gila’.

          Dengan pemikiran yang kritis, sebuah solusi bagi suatu permasalahan dapat dimunculkan. Dengan pemikiran kritis juga, kita melakukan sesuatu dengan penuh keyakinan, tanpa paksaan. Dengan pemikiran kritis pula, selayaknya tumbuh intelektual-intelektual organik, bukan intelektual tradisional yang tak mampu memberi sesuatu kepada sekitar.

          Berpikir kritis perlu untuk terus dilatih, diarahkan. Agar tidak kebablasan. Agar otak kita terus berputar dan mampu dimanfaatkan. Tanpa berpikir kritis, seseorang hanya akan menjadi manusia biasa saja, yang hanya menonton saja dan tidak menjadi pejuang dalam sebuah pertandingan.

          Kemudian, bagaimana agar kita dapat terus berpikir kritis hingga menghasilkan solusi cerdas dalam sebuah permasalahan, menjadikan kita sebagai pejuang dalam suatu pertandingan? Banyak membaca! Hal yang seringkali menjadi nasihat yang dititipkan oleh orang-orang. Slogan bahwa buku adalah jendela dunia (rasanya sekarang bukan buku aja yak, hehe) yang mungkin sering kita sepelekan, bukanlah isapan jempol belaka. Memang demikian adanya. Bandingkan saja, orang yang sering dan jarang membaca, yang sering membaca tentu akan lebih luas pandangannya.

          Namun rasanya, tak cukup sampai disitu saja. Kegiatan membaca perlu didukung kegiatan diskusi agar pemikiran kita lebih berkembang. Jika dapat berjalan dengan baik, sangat mungkin diskusi tersebut akan menghasilkan solusi bagi permasalahan yang sangat rumit, penyelesaian permasalahan-permasalahan negeri ini misalnya.

          Dalam agama Islam pun umat Islam sangat dianjurkan untuk membaca. Maka, Bacalah maka kau akan menggenggam dunia! (kalimat bikinan sndiri yang terdengar lebay).

 

23:16

waktu komputerku

*mungkin aga ga jelas, smoga bisa mengingatkan diri ini untuk snantiasa ‘bergerak’*

7 thoughts on “Daya Kritis yang Tak Boleh Mati

  1. @praditya:
    hm, bnr juga, mas adit. terima kasih diingatkan..:)

    @robee:
    kamu lebih ga jelas, rob… wkwkwk..

    @iip:
    terima kasih sudah mampir🙂.. salam kenal juga!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s