Renungan 100 Tahun Kebangkitan Nasional: Mudah-mudahan ga Cuma semangat saja…

20 Mei 2008 kemarin merupakan satu abad kebangkitan nasional. Pemerintah mengadakan pagelaran budaya secara kolosal di Gelora Bung Karno. Mungkin sebagian besar menyaksikan lewat televisi ataupun membaca beritanya di koran. Ya, malam itu, pagelaran begitu luar biasa (luar biasa macam-macam kalo bagi saya). Gimana enggak, acara itu diisi oleh puluhan ribu pengisi suara dan melibatkan penonton dari berbagai kalangan pula. Continue reading

Advertisements

TUGU RAKYAT

tujuh gugatan rakyat
1. nasionalisasi aset-aset strategis bangsa.
2. wujudkan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang terjangkau bagi rakyat.
3. tuntaskan kasus BLBI dan korupsi Soeharto beserta kroni-kroninya.
4. kembalikan kedaulatan bangsa pada sektor pangan, ekonomi, dan energi.
5. jamin ketersediaan dan keterjangkauan harga kebutuhan pokok bagi rakyat.
6. tuntaskan reformasi birokrasi dan berantas mafia peradilan
7. selamatkan lingkungan dan tuntaskan kasus lumpur lapindo brantas

Aksi Kepung Istana BEM SI: 12 Mei 2008

Totalitas Perjuangan

Kepada para mahasiswa
Yang merindukan kejayaan
Kepada rakyat yang kebingungan Di persimpangan jalan
Kepada pewaris peradaban Yang telah menggoreskan
Sebuah catatan kebanggaan Di lembar sejarah manusia
Wahai kalian yang rindu kemenangan
Wahai kalian yang turun ke jalan
Demi mempersembahkan jiwa dan raga untuk negeri tercinta

HIDUP MAHASISWA!! HIDUP RAKYAT INDONESIA!!

Banpol ato PI?

Akhir bulan ini Insya Allah saya akan menjalani UAS.. Ga terasa cepat sekali waktu berjalan. Semester dua akan segera selesai, kemudian masuk ke semester 3 dan harus memilih program studi yang diminati. Ya, saya harus pilih salah satu program studi tersebut di atas ketika memasuki semester tiga nanti. Continue reading

Ironi UAN 2008

Sekitar seminggu lalu, ketika saya kumpul bersama teman-teman SINTESA di Basecamp kami, seseorang bercerita tentang pelaksanaan UAN di sekolah kami, SMAN1 Tegal yang konon bagus itu. Si pencerita mendapat SMS kabar dari salah seorang peserta UAN. Pemberi kabar bilang kalo pas UAN kemarin, banyak yang nangis, ada juga yang pingsan, bahkan ada yang sampe sakit psikis karena terlalu memikirkan UAN. Ya Allah, separah itu kah?

UAN tahun ini yang berbeda dengan tahun sebelumnya mungkin masih dirasa berat bagi siswa-siswa SMA. Enam mapel diujikan selama tiga hari. Standardnya pun lebih tinggi. Kalo bagi saya, ini berat. Dan ternyata adik-adik kelas saya pun merasa demikian. Bahkan ada salah seorang siswa yang sampe stress dan akhirnya kesehatan psikisnya terganggu. Saya yakin, dia sebetulnya bisa. Orang saya sedikit kenal dengannya. Pejabat OSIS, pintar, cerdas, sopan, santun, pokoke baik deh. Hm, mungkin dia hanya tidak mampu mengelola mentalnya. Sayang sekali, dia tak bisa mengikuti UAN.

Puncaknya, kemarin siang, saya dapat SMS dari adik saya yang masih kelas XI di SMA yang sama dan cerita kalo adik kelas saya yang saya sebut di atas belum juga masuk sekolah. Ga ikut UAN susulan yang Cuma selisih seminggu setelah UAN. Ya Allah, bagaimana nasibnya??

Lagi-lagi, ada permasalahan terkait dengan sistem UAN, seperti tahun lalu (iya ga ya? Permasalahan apa? Lupa) dan tahun sebelumnya ketika itu banyak orang-orang pandai juara olimpiade ataupun yang telah diterima di PTN tapi tidak lulus UAN. Sebenarnya, dimana letak kesalahannya? Evaluasi apa saja yang diperoleh sehingga kemudian perlu dilakukan perubahan sistem pelaksanaan UAN? Dari yang tiga mapel menjadi enam mapel, dari standard yang, 4,25 (klo tidak salah dulu sgini), menjadi 5,xx (saya ga tau pastinya) apakah tahun sebelumnya hasil sudah cukup memuaskan sehingga layak untuk dinaikkan??

Ah, apakaha untuk sebuah perubahan ke arah perbaikan perlu ada ‘korban’ dan ‘korban’nya mereka?