Ironi UAN 2008

Sekitar seminggu lalu, ketika saya kumpul bersama teman-teman SINTESA di Basecamp kami, seseorang bercerita tentang pelaksanaan UAN di sekolah kami, SMAN1 Tegal yang konon bagus itu. Si pencerita mendapat SMS kabar dari salah seorang peserta UAN. Pemberi kabar bilang kalo pas UAN kemarin, banyak yang nangis, ada juga yang pingsan, bahkan ada yang sampe sakit psikis karena terlalu memikirkan UAN. Ya Allah, separah itu kah?

UAN tahun ini yang berbeda dengan tahun sebelumnya mungkin masih dirasa berat bagi siswa-siswa SMA. Enam mapel diujikan selama tiga hari. Standardnya pun lebih tinggi. Kalo bagi saya, ini berat. Dan ternyata adik-adik kelas saya pun merasa demikian. Bahkan ada salah seorang siswa yang sampe stress dan akhirnya kesehatan psikisnya terganggu. Saya yakin, dia sebetulnya bisa. Orang saya sedikit kenal dengannya. Pejabat OSIS, pintar, cerdas, sopan, santun, pokoke baik deh. Hm, mungkin dia hanya tidak mampu mengelola mentalnya. Sayang sekali, dia tak bisa mengikuti UAN.

Puncaknya, kemarin siang, saya dapat SMS dari adik saya yang masih kelas XI di SMA yang sama dan cerita kalo adik kelas saya yang saya sebut di atas belum juga masuk sekolah. Ga ikut UAN susulan yang Cuma selisih seminggu setelah UAN. Ya Allah, bagaimana nasibnya??

Lagi-lagi, ada permasalahan terkait dengan sistem UAN, seperti tahun lalu (iya ga ya? Permasalahan apa? Lupa) dan tahun sebelumnya ketika itu banyak orang-orang pandai juara olimpiade ataupun yang telah diterima di PTN tapi tidak lulus UAN. Sebenarnya, dimana letak kesalahannya? Evaluasi apa saja yang diperoleh sehingga kemudian perlu dilakukan perubahan sistem pelaksanaan UAN? Dari yang tiga mapel menjadi enam mapel, dari standard yang, 4,25 (klo tidak salah dulu sgini), menjadi 5,xx (saya ga tau pastinya) apakah tahun sebelumnya hasil sudah cukup memuaskan sehingga layak untuk dinaikkan??

Ah, apakaha untuk sebuah perubahan ke arah perbaikan perlu ada ‘korban’ dan ‘korban’nya mereka?

4 thoughts on “Ironi UAN 2008

  1. Yah, memang ibaratanya kelulusan yang ditentukan dengan UAN seolah tidak mempedulikan kerja keras siswa selama 3 tahun lalu. Mungkin lama-kelamaan sekolah di Indonesia memberikan pembelajaran yang beorientasi hanya untuk lulus UAN. Padahal ada yang lebih penting juga yang harus diajarkan di masa Sekolah, seperti Akhlak dalam bertingkah laku misalnya.

  2. @ridu:
    iya, kasian ya klo dpt nasib 3 thn-nya sia2..

    @berli:
    setuju, mas berli.. hm, kapan yah, pendidikan di indonesia bisa ideal sesuai harapan?

  3. mmm…
    klo masalah yang pejabat OSIS itu saya juga sudah mendengarnya, tapi belum bisa dipastikan apa penyebabnya…
    Mungkin seperti yang rifa sebutkan, tapi tidak menutup kemungkinan penyebab lain..
    Ada yang mengatakan dia dalam keadan sehat jiwa raga setelah UAN berlalu, namun kambuh lagi.
    Dan sepertinya sampai saat ini belum bisa dikonfirmasikan, mengingat kondisi yang bersangkutan belum pulih.

    [tadinya mau komen panjang tentang UAN, tapi ga usah lah..]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s