Renungan 100 Tahun Kebangkitan Nasional: Mudah-mudahan ga Cuma semangat saja…

20 Mei 2008 kemarin merupakan satu abad kebangkitan nasional. Pemerintah mengadakan pagelaran budaya secara kolosal di Gelora Bung Karno. Mungkin sebagian besar menyaksikan lewat televisi ataupun membaca beritanya di koran. Ya, malam itu, pagelaran begitu luar biasa (luar biasa macam-macam kalo bagi saya). Gimana enggak, acara itu diisi oleh puluhan ribu pengisi suara dan melibatkan penonton dari berbagai kalangan pula.

Kebetulan, universitas tempat saya kuliah ditunjuk sebagai salah satu pengisi acara. Lebih tepatnya sebagai AUBADE. Paduan suara 5000 mahasiswa dari S1 Reguler dan D3. Selain kami sebagai mahasiswa, ada pula dari TNI, Pelajar, Pramuka. Ada pula penyanyi spt 3Diva, Agnes Monica, Edo Kondologit.. Semua yang menyaksikan pagelaran malam itu pasti sepakat kalau acara tersebut spektakuler.

Katanya sih, dengan acara tersebut diharapkan mampu meningkatkan semangat nasionalisme. Mengobarkan semangat dan keyakinan bahwa bangsa ini bisa bangkit dari keterpurukan. Makanya, di acara tersebut ada deklarasi INDONESIA BISA!. Dan nyatanya, memang cukup membangkitkan semangat itu. Saya pun mengakui demikian. Begitu pun dengan teman-teman yang mengaku hal yang sama ketika di kelas SBI tadi siang dosen kami menanyakan. Bagaimana tidak, pertunjukan budaya yang ada memang membuat kita teringat bahwa kita negara yang kaya tapi ga maju

Tapi, the question from me is… How much the cost? Apakah untuk membangkitkan semangat nasionalisme itu harus dengan mengalokasikan alias mengeluarkan dana yang begitu besar? Bayangkan saja, untuk AUBADE saja, berapa dana yang dikeluarkan untuk konsumsi yang tidak hanya diberikan pas latihan saja, transportasi ketika gladi resik dan ketika hari H dengan konon 95 bis, belum lagi sekian puluh ribu yang dibagikan ketika hari H. Itu baru AUBADE. Belum pengisi yang lain, yang didatangkan langsung dari daerah masing-masing termasuk Papua (padahal banyak banget pengisinya, puluhan ribu!), biaya peralatan, kebutuhan pendukung acara yang lain, dsb. Kalo masih bisa ditambah lagi, dihitung pula opportunity cost nya. Duh,duh,duh, saya ga bisa ngitungnya deh. Pasti angkanya milyaran… atau malah trilyunan?

Ah, saya hanya tak habis pikir dengan hal ini. Ketika di pelosok sana anak negeri kelaparan, tak bisa makan, tak bisa sekolah, dana yang begitu besar dihamburkan demi bangkitnya semangat nasionalisme. Tak heran, teman saya yang begitu semangat kemudian mengingatkan bahwa PR kita masih banyak. Mudah-mudahan setelah malam tadi yang muncul tidak sekedar semangat untuk bangkit saja, tapi kemudian dilanjutkan oleh aksi-aksi nyata para entitas bangsa ini, untuk INDONESIA yang lebih BAIK. BANGKITLAH NEGERIKU! BANGKITLAH INDONESIA!! Harapan itu masih ada!!

5 thoughts on “Renungan 100 Tahun Kebangkitan Nasional: Mudah-mudahan ga Cuma semangat saja…

  1. Acara yang bagus. Justru itu yang perlu kita renungkan, bila perlu teteskanlah air mata kita sebagai bntuk penyesalan atas ketertinggalan kita untuk lebih memperdulikan semua karunia yang ada, dan jadikanlah modal untuk “membangkitkan negeri ini”. Banyak yang belum kita ketahui tentang isi negeri ini sebelum acara itu Fa dan tak ada alasan untuk tidak merasa bersalah akan sikap kita selama itu, Fuh…!!! Berdosa Kita.
    Tapi karena acara itu, besoknya lapangan jd kacau bwt laga Timnas INA vs Bayen M.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s