Belajar Politik: Untuk Pengabdian atau?

Pertanyaan itulah yang kemudian mengingatkan saya, untuk apa saya belajar selama ini. Kembali meluruskan niat, kurang lebih seperti itu. Siang kemarin, saya dan teman-teman kebetulan berkesempatan mendapat ilmu dari seorang pengamat politik yang tentu tidak asing lagi, Eep Saefullah Fatah. Mas Eep, begitu beliau biasa disapa oleh mahasiswanya.

Sekitar lima belas menit dari jadwal yang semestinya, beliau baru datang. Dan, permintaan maaf yang dilontarkannya, beda dengan dosen lain yang sering kali beralasan telat karena macet. Tahu tidak, apa katanya? “Maaf, saya terlambat, semua ini murni kesalahan saya, bukan karena macet ato apa, tapi karena saya telat berangkat.” Sejurus kemudian beliau mempersiapkan perangkat perkuliahan dengan gesit. Laptop, infocus, dsb dikeluarkan langsung dari tasnya kemudian dipasang. Tanpa bantuan mahasiswa. (ini karena ga ada yang peduli, ato karena memang biasa demikian?)

Dan perkuliahan pun dimulai. Tentang Sistem Politik dan Struktur Pemerintahan di Indonesia. Sesekali, di sela-sela materi, dosen yang dulunya Ketua Forum Studi Islam FISIP UI pada awal berdirinya ini bercerita tentang peristiwa-peristiwa yang (tentu) ada kaitannya dengan politik. Materi dan cerita yang disampaikan benar-benar membuat kami takjub dan bengong beberapa saat. Beberapa diantara kami pun saling berbisik, “keren banget…” begitulah kira-kira kesan kami yang memang baru pertama kalinya mendapat materi dari beliau langsung di kelas.

Terkait judul di atas, awalnya bermula ketika beliau mengeluarkan pernyataan bahwa setidaknya setelah lulus ada yang bisa kalian kerjakan. Ya, seringkali orang (bahkan kadang kami) bingung apa yang akan dilakukan oleh lulusan ilmu politik.

“Dalam Tiga tahun terakhir ini, ada 376 pilkada di seluruh Indonesia. Artinya, ada 125 pilkada per tahun, … , tiap tiga hari ada 1 pilkada. Banyak kan, yang bisa dilakukan? Tinggal kita pilih, belajar politik kita untuk pengabdian atau untuk bisnis? Kalo mau bisnis, harus bener-bener siap. Kalo mau jadi konsultan pemenangan pemilu, misalnya. Kalo menang, bisa sukses dan banyak dipakai. Kalo kalah, ya bisa jatuh juga. Tapi kalo untuk pengabdian, mungkin tidak akan menghasilkan materi sebesar kalo kita memilih untuk bisnis, tapi yakinlah, hasilnya akan dapat dirasakan kemudian.” Lanjutnya lagi, “kalo orang bilang, susah cari tema buat skripsi, siapa bilang? Tema banyak banget, tinggal pilih.” Hehe.. iya sih.. kalo saya juga lebih sering bingung pilih,, hihi

“Beberapa waktu lalu, saya membimbing skripsi dan tesis beberapa mahasiswa, dan insyaALlah dalam waktu dekat, akan diterbitkan untuk jadi sebuah buku. Saya yakin, semua mahasiswa politik bisa menulis dan diterbitkan menjadi sebuah buku, dan saya pun yakin, anda semua pun bisa. Asal harus tekun dan benar-benar serius,” Hm, sampai disini, saya mikir, kalo orang lain aja yakin dengan diri kita, harusnya kita pun yakin dengan diri kita. “Makanya, kalo bisa dari sekarang kalian pikirkan akan bikin apa skripsinya, jadi kalo ada hal-hal yang terkait, bisa dikumpulkan dari sekarang. Seperti saya dulu, saya punya catatan kecil yang selalu saya bawa kemana-mana, dan tiap kali baca dan menemukan hal-hal menarik, saya catat, bukunya apa, dsb. Jadi nanti gampang pas bikin tulisan.”

“Kalian juga bisa ketika baca koran, terus terkait dengan tema, nanti digunting dan disimpan. E-paper kompas pun saya rasa bisa kalo kalian crop. Sekarang teknologi semakin canggih, jadi saya rasa itu akan memudahkan. Dulu jaman saya ga seperti ini aja bisa, jadi klo sekarang udah secanggih ini, masa ga bisa?”

Kalimat-kalimat di atas hanya sebagian kecil yang saya dapat dari kuliah siang itu. Hal menarik lainnya, ternyata kadang kegiatan iseng bisa menjadikan uang. Ya, Mas Eep pernah iseng menghitung masa jabatan SBY dan seberapa lebih lama dari Megawati. Kemudian hal tersebut dituangkan dalam sebuah tulisan. Wah, produkif banget ya…

Apa yang disampaikan beliau, sungguh membuat kami termotivasi, mudah-mudahan berlanjut kepada tindakan, tak sekedar berhenti pada motivasi. Insya Allah. Ingat, waktu itu ga akan kembali, jadi manfaatkan. Bukankah kita di masa depan adalah buah dari apa yang kita lakukan sekarang?

Dan kemudian, belajar kita, untuk pengabdian atau?

7 thoughts on “Belajar Politik: Untuk Pengabdian atau?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s