Senyum Bocah Penjual Koran

Lokasi tempat tinggal saya (kos) yang berada di sekitar halte UI mau tak mau memang membuat saya harus selalu menggunakan Bis Kuning untuk menuju kampus. Tiga hari dalam seminggu, saya berangkat pagi sekitar pukul delapan bahkan suka lewat padahal kuliah dimulai jam delapan dan kembali lagi menggunakan Bis Kuning ke halte tersebut maksimal pukul 20.30. Sesekali dan sekarang cukup sering, jika tidak agenda lagi selepas kuliah, saya bisa kembali siang atau sore. Di sela-sela penantian bis kuning tersebut, bisa dipastikan saya akan menemui anak-anak berusia sekolah dasar dan maksimal sekolah menengah pertama yang menjual koran. Kompas, Media Indonesia, SINDO adalah beberapa harian yang biasanya mereka jinjing. Kalau pagi, jumlah jinjingan tersebut bisa setebal 50 cm atau lebih. Miris memang. Anak-anak itu menawarkan koran yang mereka bawa kepada para mahasiswa/i yang berada di halte atau calon penumpang bis kuning lainnya. pengguna bis kuning bukan hanya mahasiswa kan?

Tak jarang, mereka ikut pula naik bis kuning untuk menawarkan kepada penumpang bis. Siapa tahu dari penumpang tersebut ada yang butuh koran. “Kak, korannya kak.” demikian yang mereka ucapkan ketika menawarkan koran mereka.Kalau siang atau sore hari, biasanya kalimatnya ditambah menjadi, “koran kak, masih banyak nih kak, nanti gak boleh pulang kalau belum habis.” Rata-rata mereka menawarkan dengan wajah memelas. Bentuk ekspresi karena koran masih banyak, atau mungkin kondisi lain seperti lapar atau haus. Ditambah ketika calon pembeli menolak, mereka merajuk. Ya, rata-rata demikian.

Namun, suatu hari, saya menemukan ada yang berbeda. Continue reading

Kembali

AKhirnya saya mengisi lagi blog ini, setelah sekian lama break tanpa pamit dan tanpa menentukan akan kembali kapan. Kurang lebih satu tahun lamanya saya tidak update blog saya ini. Lihat saya postingan sebelumnya yang saya tulis November tahun lalu, sampai-sampai beberapa teman bilang: blognya rifa udah lumutan lah, ada juga yang nanyain kapan terakhir posting dan nyuruh update. Hehe. Apa yang membuat saya berhenti ngeblog 12 bulan ini sebenarnya bukan karena gak ada hikmah yang bisa diceritakan, ataupun karena gak ada waktu. Dua hal itu bisa dilawan sebenarnya. Percayakah kalau absennya saya beberapa bulan kemarin adalah karena ketidakpedean dan merasa apa yang sering saya tulis adalah sampah seperti makalah-makalah satu malam saya? Yah, kenyataannya memang demikian. Merasa apa yang saya tulis tidak ada maknanya. Padahal tidak ada yang sia-sia ya di dunia ini.

Lantas, kenapa tiba-tiba saya posting lagi? Ini sebenarnya terdorong oleh aktifitas blogwalking yang saya lakukan dua-harian ini. Ternyata dah lama juga saya gak blogwalking, ternyata juga, itu ngaruh buat saya. Akhirnya ngintip-ngintip blog orang itu bikin saya ingin kembali ke dunia yang saya senangi sebenarnya (terkait tulis menulis, bloging, networking, etc untuk kemudian jadi orang yang produktif) meski saya sadar, sudah tertinggal sepertinya. Gak hanya tertinggal, tapi terlewat beberapa kesempatan yang dulu sering ingin saya lakukan (apa coba?).  Tapi kalau kata pepatah, better late than never. Makanya saya balik lagi dan harapannya sih semoga istiqomah. Hehe. Mohon doanya yaaa… 🙂 🙂