Senyum Bocah Penjual Koran

Lokasi tempat tinggal saya (kos) yang berada di sekitar halte UI mau tak mau memang membuat saya harus selalu menggunakan Bis Kuning untuk menuju kampus. Tiga hari dalam seminggu, saya berangkat pagi sekitar pukul delapan bahkan suka lewat padahal kuliah dimulai jam delapan dan kembali lagi menggunakan Bis Kuning ke halte tersebut maksimal pukul 20.30. Sesekali dan sekarang cukup sering, jika tidak agenda lagi selepas kuliah, saya bisa kembali siang atau sore. Di sela-sela penantian bis kuning tersebut, bisa dipastikan saya akan menemui anak-anak berusia sekolah dasar dan maksimal sekolah menengah pertama yang menjual koran. Kompas, Media Indonesia, SINDO adalah beberapa harian yang biasanya mereka jinjing. Kalau pagi, jumlah jinjingan tersebut bisa setebal 50 cm atau lebih. Miris memang. Anak-anak itu menawarkan koran yang mereka bawa kepada para mahasiswa/i yang berada di halte atau calon penumpang bis kuning lainnya. pengguna bis kuning bukan hanya mahasiswa kan?

Tak jarang, mereka ikut pula naik bis kuning untuk menawarkan kepada penumpang bis. Siapa tahu dari penumpang tersebut ada yang butuh koran. “Kak, korannya kak.” demikian yang mereka ucapkan ketika menawarkan koran mereka.Kalau siang atau sore hari, biasanya kalimatnya ditambah menjadi, “koran kak, masih banyak nih kak, nanti gak boleh pulang kalau belum habis.” Rata-rata mereka menawarkan dengan wajah memelas. Bentuk ekspresi karena koran masih banyak, atau mungkin kondisi lain seperti lapar atau haus. Ditambah ketika calon pembeli menolak, mereka merajuk. Ya, rata-rata demikian.

Namun, suatu hari, saya menemukan ada yang berbeda.

Ada seorang anak, yang sering saya lihat di halte UI juga, menawarkan koran, tetapi tidak seperti yang lain.Anak ini, berbeda. Tidak ada ekspresi sedih ataupun ekspresi buruk lainnya. Dia selalu menawarkan dengan senyum dan saya dapat merasakan ada semangat disana.  Pun ketika calon pembeli tidak jadi membeli, dia tetap tersenyum dan tampak masih menyimpan harapan bahwa korannya akan habis. Bagi saya, ia berbeda dengan yang lain. berbeda dalam memaknai kesempatan dan rizki yang Allah tetapkan. Ia tidak mengeluh, meski seorang kakak yang menolak untuk membeli mungkin sudah beli koran atau sedang tidak bawa uang kecil. Saya rasa, dia yakin masih ada kakak-kakak lain yang akan membeli korannya.

Pertemuan saya dengannya tidak hanya satu kali. Kali lain, saya bertemu dengannya pula. Dan masih seperti hari-hari sebelumnya, ia menawarkan dengan senyum. Dan seolah ingat dengan saya GR mode:on, tiap kali bertemu, dia buru-buru menghampiri saya dan menawarkan korannya. Ketika saya menanyakan harga dia menjawab, “three thousand, kak.” dengan semangat.

Subhanallah. Di tengah kondisinya yang demikian, terampas masa kecilnya, berkurang masa belajar dan bermainnya, anak ini masih bisa tersenyum. Senyum yang kemudian membuat orang lain seperti saya ikut tersenyum dan lirih mendoakan, mudah-mudahan koranmu cepat habis kemudian segera pulang untuk kembali bermain belajar supaya kelak kamu dapat seperti anak lainnya, merasakan serunya bermain dan belajar agar kamu dapat tersenyum lebih lebar.  Dengan senyumnya pula, ia mengajarkan kita, bahwa, masalah, himpitan hidup, tidak mesti dihadapi dengan sedih, gundah gulana, ataupun tangisan. Sebuah masalah, dapat dihadapi dengan senyuman, untuk kemudian menjadi kekuatan harapan untuk dapat selesai dari masalah tersebut. Semudah itukah? Kalau ia saja bisa, kenapa kita tidak?

Mari senyuuumm…🙂


9 thoughts on “Senyum Bocah Penjual Koran

  1. Banyak hal di sekitar kita yang membuat miris, bahkan seringkali memaksa buliran – buliran jernih di sudut mata kita untuk keluar…

    Di sini pun tak jauh beda. Banyak anak2 usia sekolah (bahkan pra sekolah) terpaksa turun ke jalan untuk mengais rupiah. Perempatan MM UGM dan perempatan Mirota Kampus hanyalah 2 dari sekian banyak titik yang dengan telanjang menyajikan pemandangan memprihatinkan itu. Adik2 kecil itu bahkan berada di sana dari pagi hingga malam untuk mengais rupiah. Bukan dengan menjual koran atau dengan cara – cara terhormat lainnya, melainkan dengan mengemis.

    Dulu ketika saya masih “hobby” jalan kaki dari kos ke kampus (+/- 1,7 km) beberapa kali saya sengaja menurunkan kecepatan jalan saya di sekitar perempatan MM UGM hanya untuk memperhatikan mereka. Jika saya berangkat pagi (sekitar 6.30 karena kuliah mulai 7.00) kadang saya jumpai adik2 itu tertidur di emperan toko tanpa alas dengan wajah penuh lelah dan pakaian yang tentu saja sangat tidak layak.

    Suatu ketika yang lain, ada seorang bocah laki2 (kira2 usia SD kelas 6) menawarkan jasa ngelap sepeda motor di perempatan yang sama.
    Fifi: Ga usah, Dek…
    Adek: Ga usah dilap GPP, Mba… Tapi minta uangnya
    Fifi: Saya ga bawa uang, uang saya udah buat beli roti
    Adek: Boleh minta rotinya, Mba? Saya belum makan, Mba…
    Akhirnya, saya buka bungkusan roti bakar coklat keju (kalo ga salah ingat coklat keju, ga penting juga mengingat rasanya apa) yang baru saya beli. Dia ambil 2 potong.
    Adek: Makasih ya, Mba…
    Lalu dia pergi dan membagi2kan 2 potong kecil roti bakar kepada teman2nya di pinggir jalan.

    Di saat lain lagi, seorang bocah perempuan kecil (kira2 usia 3-4 tahun) tanpa alas kaki mendatangi saya. Sambil memberinya sedikit uang, saya tanya “Koq adek di sini? Orangtuanya mana?”. Sambil berlari dia menjawab “Kerja. Cari uang!”

    Inna lillaahi wa inna ilayhi raaji’uun…
    Di negeri yang subur ini, di negeri yang kaya akan sumber daya alam ternyata rakyatnya jauh dari kata sejahtera. Anak2 negeri ini terancam masa depannya. Jangankan memikirkan masa depan, bahkan masa sekarang pun suram bagi mereka…Padahal mereka ini berada di pusat kota, di lingkungan kampus tertua dan terbesar di negeri ini. Di kampus yang bahkan salah satu fakultasnya menjadi kampus termewah di Indonesia.

    Inilah potret dari negeri salah urus!
    Negeri yang menerapkan sistem ekonomi Kapitalis – Liberalis yang menjadikan perekonomian di negeri ini bagaikan hutan rimba: siapa yang punya kapital, dia yang berkuasa dan bisa leluasa menghisap kekayaan negeri ini hingga nyaris tak bersisa untuk mengjidupi mereka yang tak punya kapital.

    Negeri yang menjadikan pendidikan dan kesehatan sebagai komoditas bisnis hingga muncul pameo “Orang Miskin Dilarang Sakit!”, juga “Orang Miskin Dilarang Sekolah!”

    Sampai kapankah kita akan terus diam membiarkan negeri ini salah urus?
    Bergeraklah!
    Bersuaralah!
    Tawarkan solusi!
    Karena kita punya solusi: ISLAM!

  2. Benang kusut itu berawal dari ulah manusia yang “sok tau” dan “sok hebat” yang mencampakkan hukum2 ALLAH ke keranjang sampah dan sok-sokan membuat hukum sendiri!
    ALLAH telah menurunkan sistem kehidupan yang lengkap lagi sempurna. Ada sistem ekonomi, sistem sosial, sistem pergaulan, sistem politik, sistem pemerintahan, dan seluruh sistem lainnya yang dibutuhkan untuk mengatur kehidupan bernegara (dan sudah terbukti pernah diterapkan dengan membawa keberhasilan yang gilang gemilang). Eeehh…, manusia2 ini pada sok tau dan sok hebat merasa mampua membuat sistem lain yang lebih baik daripada sistem ALLAH.
    So, hanya ada 1 solusi: Selamatkan Indonesia dengan Syari’ah dan Khilafah!
    Syari’ah Islam bukan sekaddar agenda masa lalu melainkan agenda masa lalu, masa sekarang, dan masa depan!

  3. pernah ngobrol sama salah satu anak-anak itu stasiun ui. di halte tepatnya. salah satu potongan ceritanya adalah, kalo hari sabtu si anak suka bolos sekolah demi jualan koran. abisnya susah ngabisin koran hari sabtu, di kampus nggak banyak orang, nggak sebanyak hari kerja.
    ‘kalo nggak abis gimana?’
    ‘ya nombok kak’
    makanya mereka bolos, biar pagi (yang biasanya baru mulai jualan siang2) bisa dipake buat ngejer setoran.

  4. Kalau tidak salah, ada seorang anak penjual koran di UI tersebut yang ahli di 6 jenis bahasa asing. Mungkin dia orang yang sama dengan anak yang dimaksudkan di tulisan ini..🙂

    • eheh, masa sih ahli 6 bahasa asing? cuma kalimat tertentu aja kali😀 soalnya itu ada yg ngajarin setau saya. btw, td sy kunjungan balik loh, ternyata anak pol 2011 ya? junior sy dunk..he. salam kenal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s