Diusir

Ini cerita tentang saya dan kelompok lingkaran pekanan saya beberapa waktu lalu. Hari itu, saya dan beberapa teman, yang jumlahnya kala itu tidak full, melakukan kegiatan rutin kami di sebuah masjid. Kami cukup sering melakukan kegiatan kami disana. Dan hari itu, menjadi berbeda dari hari biasanya.

Hari itu, yang belum lama dari hari ini, masih dalam Bulan Ramadhan. Kami memulai dari jam dua siang. Menjelang ashar, ada seorang bapak-bapak menghampiri kami yang sedang di lantai dua masjid. Ia bertanya, “Dari mana?” kamipun menjawab dengan menyebutkan kampus kami. Pertanyaan pun berlanjut,”kalau belajar ilmu agama boleh, belajar ilmu umum jangan disini.” Kami bilang, kami belajar ilmu agama. Pembicaraan pun terhenti. Tak lama setelahnya, adzan ashar memanggil, dan kami pun shalat ashar berjamaah mengikuti shalat jamaah di masjid tersebut.
Setelah shalat selesai…
Bapak-bapak itu naik lagi dan tanya ke saya, “itu masih lama gak? kalau masih lama, bubar aja sekarang.” Ia pun berjalan ke arah teman-teman saya dan bilang, “Bubarin aja sekarang. Lain kali harus izin pengurus. Kita kan gak tau akidahnya udah bener atau belum. Ini masjid khusus buat ahlul sunnah wal jamaah. udah ada tulisannya di depan. selain itu gak boleh. Udah solat belum kalian?” tanyanya agak emosi.

What? kami dikira orang yang gak bener akidahnya? Dikira gak solat seperti mereka? Astaghfirullah..

Dia bilang lagi. “Ini masjid **, selain warga ** ga boleh.” katanya sambil menyebutkan salah satu ormas terbesar di Indonesia.

Saya gak habis pikir. Pertama, kenapa si bapak langsung menuduh yang enggak2, tanpa membuktikan tuduhannya. Kedua, heyyy, ini mesjid loh, rumah Allah, bukan rumahnya orang **, ato lainnya aja. Bukannya kalo kita berkebaikan disitu ia juga dapet berkah? Ketiga, belum lama dari kejadian itu, saya banyak dengar sharing tentang sebuah masjid di Jogja. masjid tersebut memang dijadikan pusat kegiatan. Jadi gak cuma solat, ngaji aja. Di masjid itu, bisa jadi tempat istirahat bagi para pedagang, tukang becak, sopir, dsb. Bahkan pelajar pun bisa belajar disana. Belajar apa saja. Kalau perlakuan orang tua seperti di atas, bagaimana masjid bisa dekat dengan masyarakat? Astaghfirullah..

Mudah-mudahan, orang seperti bapak di atas diampuni, dibukakan pikirannya, dan apa yang kami alami itu memang karena pemahamannya yang masih kurang, bukan karena kebencian dengan kelompok tertentu.

Semoga, umat muslim lebih senang mengangkat persamaan tentang kebaikan, bukan mempertajam perbedaan yang membuat perpecahan.

2 thoughts on “Diusir

  1. Terkadang ashobiyah seperti itu masih dijumpai di masyarakat….
    Inilah sebenarnya tugas kita… Melakukan edukasi kepada ummat… ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s