Aktifisme Perempuan

Saya bukan sedang mau nulis yang berat-berat sih. Sekedar meluapkan uneg-uneg.

Ya, jadi beberapa waktu lalu saya hadir di talk show kegiatan tentang perempuan yang diselenggarakan LDK tempat saya kuliah. Saya cuma ikut satu sesi. Sesi yang saya ikuti menghadirkan seorang suami dari seorang perempuan yang begitu luar biasa. Ibu yang hebat dan juga tokoh publik yang jadi panutan banyak orang. Intinya, istri bapak pembicara ini luar biasa. Perbincangan dalam sesi tersebut banyak mengenai sosok perempuan istri pembicara juga apa yang dilakukan bapak pembicara.

Singkat cerita, ketika sesi tanya jawab, ada seseorang bertanya, kurang lebih pertanyaannya demikian: apa yang membuat bapak memberikan sebegitu keleluasan untuk istri bapak?

Di samping alasan pribadi, ada kalimat menarik yang pembicara sampaikan ketika menjawab pertanyaan di atas. Pembicara mengatakan (yang kalimat tersebut juga ia dapatkan dari orang lain):

jika seorang perempuan menikah lantas ia tidak bisa berkembang dan berkurang kemanfaatnnya untuk publik, berarti suaminya tidak amanah.

Kata-kata ini menurut saya perlu juga dipahami laki-laki.

Saya kemudian iseng mentweet kalimat tersebut. Dan seketika mendapat respon dari seorang kawan yang cukup concern dengan isu perempuan mengatakan: kok jadi suami yang subjek dan istri yang subjek sih?

Mungkin karena perspektif feminis (bisa dibilang begitu kali yah) saya yang kurang, saya cuma agak bingung dan bilang aja kalau itu pendapat orang dan menurut saya ga masalah. Alih-alih berdebat soal siapa subjek dan objek, atau perspektif feminis atau patriarki, saya lebih memilih menggarisbawahi tentang perlunya perempuan diberi kesempatan untuk berkembang, aktif dan memberi manfaat untuk publik. Bukankah inti dari biasanya perdebatan itu ya memberikan hak ke perempuan?

Mungkin bisa dibilang saya bukan orang yang menaruh perhatian lebih pada soal patriarki dan isu-isu kesetaraan gender. Kadang saya memang memilih untuk tidak ikut-ikutan ke hal-hal yang lebih mengundang friksi tajam seperti isu ini.  Tapi bukan berarti pula saya termasuk orang yang mau manut-manut saja dengan ide perempuan harus full di rumah, mengurus anak dan suami padahal dia bisa melakukan hal lainnya di luar rumah. Saya ada pada posisi, kalau perempuan bisa juga aktif di luar dengan tetap menjalankan tugasnya di rumah. Laki-laki pun demikian. Keduanya punya tanggung jawab yang sama sebetulnya terhadap rumah tangga. Kalau ada perdebatan tentang perempuan/istri yang lebih aktif dalam sebuah rumah tangga misalnya, mbok ya bikin kesepakatan-kesepakatan yang paling memungkinkan dan paling mendekati apa yang dimau kedua belah pihak.

Pernyataan di atas bisa jadi dinilai terlalu menggampangkan. Wajar, yang ngomong juga belum nikah.  Tapi, IMHO, kalau berangkat dari niat baik, masa iya sih gak ketemu solusinya? Iya ga?

just my two cents. Wallahu’alam bishshawwab.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s