Melanglang di Malang

Merasa sangat cupu karena minim melakukan perjalanan, melanglang dan menjelajah, saya bertekad untuk menjejak lebih banyak di bumi-Nya tahun ini. Maka, ajakan untuk melanglang dari kawan saya jelas tidak mau saya lewatkan. Berawal dari obrolan kawan-kawan saya yang manis dan jomblo, yang sama-sama pengen liburan, kami membicarakan beberapa tempat yang bisa masuk list. Akhirnya pilihan jatuh pada Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Karena Bromo letaknya dekat dengan Malang, jauh dari domisili kami di Jakarta, saya mengusulkan bagaimana jika ditambah ke Pulau Sempu. Melihat gambar-gambar Sempu di internet, siapa yang tidak tertarik? Palu pun diketok, 9-12 Maret 2013 waktunya. Perjalanan ke Malang ini jadi perjalanan pertama saya ke Jawa Timur.

Menurut rencana, perjalanan ini mestinya diikuti oleh sekitar 14 orang. Tapi, apa mau dikata, beberapa batal berangkat karena satu dan lain hal. Jadilah kami bersembilan. Saya, Nanda, Widy, Luluk, Terry, Ayu, kemudian adik saya Anis dan temannya, Yorra. Girls trip? Oh tidak sebenarnya. Ada satu lagi peserta, Dudung namanya, kawan Nanda di kantor.

Menurut rencana pula, kami berangkat dengan kereta Matarmaja dari Pasar Senen. Tapi, apa mau dikata pula, ada kisah yang menjadikan kami berlima tidak berjodoh dengan Matarmaja.

Yap, berlima ketinggalan kereta. Akibat santai karena salah pengetahuan dikira kereta berangkat 14.57, padahal 14.05 dan itu baru ketauan pas di commuter. Gak segitu santai juga sebenernya karena kami telah menunggu sekitar 1,5 jam commuter line jurusan Kota untuk turun di Cikini. Setelah pontang-panting cari ojek di Cikini dan akhirnya bertiga naik taksi, setelah dua dari kami – Luluk dan Anis mencoba ngejar pakai ojek, setelah Nanda berhasil memohon masinis untuk menunda keberangkatan Matarmaja hingga telat 20 menit, kami tetap tidak bisa mengejar. Lima menit setelah kereta berangkat, kami baru tiba di Stasiun Pasar Senen.

Lalu?

The trip must go on! Persiapan sudah sedemikian rupa, agenda lain sudah dikosongkan, dan teman-teman lain sudah tau tentang perjalanan ini. Rasanya sayang sekali kalau harus batal karena ketinggalan kereta.

Mengetahui ketidakmungkinan berangkat dengan kereta, kami meluncur ke Terminal Pulo Gadung. Merasa yakin dengan orang-orang berseragam PO Hand*y*, kami pun mengeluarkan Rp 235.000 untuk bisa sampai di Malang. Katanya sih, pakai bus eksekutif, dapat selimut, bantal juga makan dan berangkat pukul 17.00. Nyatanya, hanya ada selimut, bus bisnis biasa layaknya bus jurusan Jakarta-Tegal yang biasa saya naiki dan baru meninggalkan Terminal Lebak Bulus jam 20.00.

Ternyata lima menit keterlambatan ini kemudian harus kami bayar dengan 20 jam-an di jalan. Seperti tekad untuk tetap berangkat ke Malang, kami berusaha mencoba menikmati perjalanan ini. Menyusuri jalur Pantura. Kami melewati beberapa kota di Jawa Barat dan sempat khawatir macet karena jalanan padat merayap. Namun, memasuk kota-kota Jawa Tengah, perjalanan lancar. Sekitar pukul 11 siang hari Minggu, bus yang kami tumpangi mulai masuk Jawa Timur. Dan ternyata masih jauuuuuh. Setelah singgah untuk bertukar bus di Sidoarjo, sekitar dua jam perjalanan, kaki pun bisa menjejak Terminal Arjosari, Malang.

Singgah di UM (Universitas Negeri Malang)

Nanda, yang jadi leader dalam perjalanan ini memang sudah menyiapkan segala sesuatunya. Termasuk menjalin hubungan dengan rekan-rekan Mapala-nya UM, Jonggring Salaka. Minta tolong sih lebih tepatnya. Kami akui, perjalanan ini sangat ditolong oleh mereka, yang mempersilakan untuk singgah, mencarikan jeep untuk ke Bromo dan dikenalkan dengan Evan, salah seorang dari mereka yang kemudian menemani ke Sempu. Belakangan diketahui kalau yang bersangkutan tarafnya sudah professional.

Sekitar jam 6 sore baru masuk ke kampus. Masing-masing dari kami mengisi perut dengan Lontong Balap dan Mie Ganas, ambil foto di depan UM, dan Nanda, Terry, Ayu dan Dudung sudah datang dari Agrowisata di Batu. Mereka memanfaatkan kekosongan waktu menunggu kami dengan jalan-jalan ke Batu. Waktu pun dihabiskan untuk bebersih diri, makan malam, membicarakan rencana yang berubah dari rencana awal, dan mempersiapkan segala sesuatunya sebelum berangkat ke Bromo yang ditempuh sekitar dua setengah jam dengan Jeep dari UM.

Pisang Goreng Terenak, View Kawah, Pasir Berbisik dan Bukit Teletubbies

Dini hari sekitar pukul 00.30, dua jeep yang menjemput datang, mengangkut dan membawa kami menuju Penanjakan melalui jalanan yang terjal, berkelok dan naik turun. Perjalanan yang kami lalui kurang lebih dua setengah jam. Ramai ternyata. Dingin tak tertahankan harus kami lawan untuk segera naik ke atas, menuju Seruni Point untuk menikmati matahari terbit. Puluhan orang melakukan hal yang sama. Sebagian ke atas dengan kuda yang disewakan penduduk sekitar. Di atas, penduduk yang lain berjibaku dengan dingin untuk memperoleh nafkah dengan berjualan kopi, teh, jahe, pisang goreng juga pop mie. Makanan ringan yang mampu memberi sedikit kehangatan dan energi bagi pengunjung. Kami pun menikmati kopi seharga 5000 rupiah itu juga pisang goreng yang dibeli Nanda. Dan rasanya, entah kenapa jadi luar biasa sekali. Terenak sedunia bagi kami yang sedang kedinginan dan sedikit kelaparan.

Langit berangsur terang, view kawah sudah keliatan. Puas menikmati pemandangan, jeprat-jepret, dan sudah waktunya untuk turun, kami pun turun, menemui bapak sopir Jeep dan melaju. Jeep membawa kami menyinggahi sekitar Gunung Batok dan hamparan pasir yang disebut Pasir Berbisik. Di sini, hamparan pasir begitu luas terbentang. Semua jadi tampak kecil.

Indahnya kawasan tersebut tidak sampai di situ saja. Kita tak hanya dimanjakan dengan indahnya hamparan pasir yang abu. Hamparan berwarna hijau berbukit-bukit, padang savana, yang sering disebut Bukit Teletubbies tak kalah indahnya. Luar biasa ciptaan Tuhan.  Langit yang cerah menjadikan pemandangan tersebut semakin indah. Perpaduan warna biru-putih-hijau bisa dinikmati. Luar biasa!!

padang savana, biasa disebut bukit teletubbies

padang savana, biasa disebut bukit teletubbies

Tak sampai pukul delapan, kami sudah selesai menyinggahi spot-spot di kawasan Bromo. Cuaca yang bagus tak lupa menjadi faktor penting bagi suksesnya menikmati Bromo. Meski tak sampai ke tempat yang ada kawahnya, dan kalau untuk saya, hanya sedikit kurang lama ambil gambar yang view kawah ketika di atas  kami merasa puas dan pas. Alhamdulillah. Lagi-lagi, ini berkat Nanda. Ia begitu disiplin dengan jadwal agar apa yang kita inginkan bisa terpenuhi. Two thumbs up! *jadi marketisasi Nanda*

Setelah menikmati Bromo, kami lanjut dengan rencana kami yang telah mengalami perubahan akibat ketinggalan kereta. Tiba lebih awal di tempat persinggahan, kami memiliki waktu lebih untuk berkemas sebelum menuju tempat selanjutnya.

Pulau Sempu(rna)

Image

Bakal sayang banget kalau ke Malang gak sekalian ke sini. Pulau Sempu yang sempurna. Di sini lah kami kemudian menemukan hikmah atas ketinggalan kereta yang telah kami alami. Untuk menuju ke sana, perlu menempuh perjalanan selama kurang lebih tiga jam dari Malang ke Pantai Sendang Biru. Dari Sendang Biru, dilanjut perjalanan 15 menit dengan kapal yang bisa disewa dengan biaya Rp 100.000 pulang pergi. Sekitar pukul 13.30 kami sampai dan bergegas sholat, menyiapkan segala sesuatu sebelum menyebrang, seperti menyewa sepatu karet anti licin seharga Rp. 10.000 juga merapikan bawaan kami yang dijadikan satu pada dua 85 liter carriel untuk dibawa porter yang dibayar Rp 150.000. Sepatu ini pada akhirnya sangat membantu kami.

Menurut informasi, setelah menyebrang sekitar 15 menit, untuk menuju inti wisata Pulau Sempu, yakni Segara Anakan, perlu trekking sekitar dua jam. Kenapa tidak dengan kapal saja? Tidak bisa, karena jika menggunakan jalur laut harus melewati Samudera Hindia. Kapal yang disewa tidak cukup untuk bertarung dengan ombak samudera. Pemberi informasi ini adalah pengunjung yang baru selesai trekking pulang. Dia berangkat trekking hari sebelumnya, seperti jadwal kami di awal dan memakan waktu sekitar 2,5 jam karena malam sebelumnya hujan. Rasanya ini hikmah rencana kami yang tidak seperti semula.

Pernah suatu kali, saya tanya teman saya yang pernah ke Sempu tahun lalu tentang seperti apa Sempu. Katanya trekkingnya luar biasa. Lumpur sampai ke lutut, sandal gunung yang dipakai sampai copot. Begitu kata teman saya. Meski benar, saya tidak membayangkan sedemikian parah. Dan ternyata, emang parah bagi pemula seperti kami. Eh saya kali ya lebih tepatnya. Perlu latihan fisik lebih, atau terbiasa jalan lebih jauh untuk sukses menyusuri track ini. Jalur yang kami lalui, naik turun, tanah licin jeblok lumpur. Kalau habis hujan, tentu lebih dahsyat. Beberapa kali kaki saya terbenam di lumpur, terpeleset, terjatuh. Beberapa kali pula harus melalui dengan merayap. Pelajaran kesabaran. Beruntung, kawan seperjalanan begitu pengertian menawarkan bantuan, saling menunggui meski kami sangat diburu waktu agar sampai sebelum petang.

Mendekati ujung jalur trekking, mulai terlihat kubangan air berwarna hijau toska. Rasanya saya lebih ingin loncat dan berenang di air daripada menyusuri jalan licin, berdahan-akar juga miring-naik-turun yang telah kami susuri selama hampir dua jam. Sampai di ujung, apa yang dilihat mata membuat diri terus berucap dan membatin, begitu luar biasa ciptaan-Nya. Kelelahan melewati track yang sesuatu banget itu terbayar oleh apa yang ada di depan mata. Segara Anakan ini seperti danau yang dikelilingi hijaunya pohon-pohon yang lebat. Tetapi, bedanya dengan danau lain, Segara Anakan ini adalah sebuah laguna, ada tebing karang yang besar dan serta ombak samudera yang menghempas. Sempurna! Begitu sampai, saya cuma bisa melemparkan jaket dan bawaan saya yang tak seberapa dibandingkan yang lain menghambur ke bibir pantai.

Selepas mendirikan tenda, menyeduh air dan makan juga membereskan apa yang perlu dibereskan, kami mulai menikmati alam. Menengadah ke langit tempat terhamparnya banyak bintang-bintang, mendengarkan ombak yang menghempas karang juga semilir angin pantai. Evan yang memandu kami menyiapkan api dengan bahan seadanya karena kami luput mempersiapkan peralatan untuk api unggun. Berbekal paraffin, batang pohon dan sampah, api menyala. Kami melingkar, menikmati suasana, menyalakan kembang api, dan mengobrol.

Obrolan cukup seru. Mulai dari perilaku orang dan golongan darah, tentang Pulau Sempu, juga tentang wisata lainnya. Evan pun bercerita bagaimana ia biasa menikmati alam, termasuk Pulau Sempu. Membawa jaring kecil (bisa juga jaring tempat sandal gunung) atau kaos alakadarnya untuk menangkap ikan, mengolahnya, juga menikmati suasana sambil berayun membaca buku. Tentang Pulau Sempu ini, seperti yang juga disampaikan Evan, sebenarnya adalah wilayah konservasi, penelitian dan tidak untuk wisata pada awalnya. Beberapa tahun sebelumnya, bisa ditemui berbagai macam jenis burung, monyet, dan pernah juga ditemukan jejak macan, tanda binatang tersebut masih ada. Karang-karang di Segara Anakan juga masih hidup. Ikan-ikan pun lebih banyak jumlahnya. Bahkan kawasan tersebut bisa jadi tempat snorkeling. Sekarang, lingkungan sudah terdegradasi seiring semakin terkenalnya Sempu. Semakin banyak yang datang dan banyak dari mereka tidak menjaganya dengan baik. Dilematis memang. Pengembangan sebagai kawasan wisata juga diperlukan untuk kehidupan masyarakat sekitar. Rasanya upaya dari semua pihak untuk menjaganya sangat diperlukan, agar Sempu yang dilihat sekarang setidaknya akan sama dengan beberapa tahun kemudian. Tidak hanya dari pemerintah maupun penduduk sekitar, pengunjung pun perlu berbuat sesuatu.

Cukup mengobrol, kami pun masuk tenda. Bersiap tidur. Entah mengapa tidur malam itu begitu nyenyak dan terasa nikmat meski malam itu hujan mengguyur dan sempat terbangun, membuat berpikir bagaimana track yang harus kami lalui esok.

Akhir Perjalanan

ki-ka: Dudung, Ayu, Anis, Rifa, Terry, Nanda, Luluk, Widy, Yora, Evan

Pagi itu, setelah membereskan tenda, bawaan juga sampah-sampah yang akan kami bawa kembali untuk dibuang di tempatnya, kami memuaskan diri menikmati Segara Anakan,naik ke atas tebing karang untuk melihat samudera lepas dan Sempu dari sisi yang berbeda. Sekitar pukul 7 pagi, kami mulai perjalanan pulang. Dalam perjalanan tersebut, track terasa lebih licin, dahan dan ranting tempat berpegangan juga. Mungkin belum kering dari sisa pegangan orang-orang yang baru datang malam. Apalagi habis hujan. Namun, saya lebih bisa menikmati perjalanan pulang ini meski baju yang saya pakai jauh lebih kotor dari waktu datang. Perjalanan juga lebih santai dengan gurauan di antara kami. Dua jam sukses kami lalui, waktu tempuh yang sama seperti trekking waktu kami datang.

Dalam perjalanan pulang, kami banyak menemui pengunjung lain yang menuju ke Segara Anakan. Sepengamatan saya, banyak yang tidak berencana ngecamp. Bahkan ada yang berpakaian seperti layaknya berwisata ke pantai yang tidak perlu melalui track semacam ini. Agak berbeda dengan kami yang berangkat dengan baju siap kotor dan bawaan untuk siap ngecamp. Buat saya, lebih seru ngecamp. Bisa istirahat cukup sebelum trekking lagi, bisa lebih lama menikmati Segara Anakan. Ketika perjalanan pulang tersebut, kami temui banyak pula yang hanya memakai sandal gunung atau berjalan tanpa alas kaki. Belakangan saya tahu, ada yang trekking tanpa sepatu bisa memakan waktu sekitar 5 jam hanya untuk sekali jalan. Diam-diam saya bersyukur trekking dengan sepatu anti licin dan pemandu yang oke. Kalau hanya kami yang belum pernah sebelumnya, belum tentu bisa cukup dengan dua jam.

Kapal yang membawa kami pun datang menjemput, membawa kami kembali ke Sendang Biru. Pagi menjelang siang itu, es kelapa menutup sesi kami menikmati Sendang Biru-Sempu. Segar. Pukul 12.45 kami sampai kembali di UM, bergegas bersih diri, bersiap, pamitan dan menuju Stasiun Malang Kota Lama untuk menempuh perjalanan pulang ke Jakarta. Kereta terlambat sekitar satu jam justru di saat kami in time. Sempat makan di stasiun, ambil uang di ATM, juga mencharge henpon. 15.45 kereta melaju meninggalkan Malang.

Hari itu, 12 Maret 2013, kami menikmati kereta ekonomi AC yang tarifnya sudah sekitar Rp. 130.000 dengan membayar hanya Rp 51.000 karena kami beli jauh hari ketika merencanakan perjalanan ini. AC-nya pun baru dinyalakan dua hari sejak 10 Maret 2013. Bikin lebih bisa merelakan menyadari ditipu orang-orang berseragam Han*oy*.(Ini baru ketauan setelah di Sempu ketemu rombongan cowok Binus yang naik bis PO Han*o** yang sama dengan kami, tetapi cuma bayar Rp 150.000 malah pake dianter sampai Sempu) :p

Ah, akhirnya satu keinginan menjejak bagian lain bumi-Nya bisa saya laksanakan. Siap untuk menjejak bagian yang lain. Menikmati keindahan ciptaan-Nya, mengambil hikmah, dan bertemu orang-orang baru.

16 Maret 2013

another story, from Luluk :

3 thoughts on “Melanglang di Malang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s