Resign

20141221-112503.jpgSalah satu keputusan yang tidak mudah sebetulnya, untuk memilih hengkang dari pekerjaan saya di sebuah majalah. Pun setelahnya kadang terlintas di pikiran, apakah keputusan yang saya ambil benar? Apakah sekedar imbas emosi yang berlebihan?

Bekerja tentu bukan sekedar mencari uang untuk penghidupan, tetapi harus ada hal-hal lain yang kita peroleh. Kebahagian, pembelajaran, misalnya. Setidaknya itu yang saya yakini. Pada akhirnya, ketika ekspektasi sudah tidak terpenuhi lagi dan saya sering mengeluh karenanya, mempertahankannya sepertinya bukan lagi ide yang baik.  Bukan, bukan karena saya tidak suka lagi dengan pekerjaan itu. Apa boleh buat, keengganan untuk meneruskan sudah menghampiri. Kadang dalam benak saya terlintas, rasanya 1,5 tahun lalu agak buang waktu. Tapi buru-buru saya enyahkan pikiran itu dan mulai membangun pikiran bahwa pasti ada yang bisa dipetik, ada hal yang bermanfaat.

Satu hal yang bagi saya cukup berat terasa juga cukup menguras air mata di hari terakhir saya adalah meninggalkan kebersamaan dengan orang-orang yang membersamai selama 1,5 tahun terakhir. Ternyata begini rasanya meninggalkan, tidak mudah untuk begitu saja menghapus hal-hal yang biasanya menjadi rutinitas bersama. Gak ada lagi marathon rapat tiap senin, juga saling kirim pesan via whats App ke Nimas, yang memutuskan keluar lebih dulu beberapa hari. Biasanya hampir tiap hari kami saling tanya : lo ngantor jam berapa? Udah bikin laporan? Haha. Lucu kan, kayak anak baru yang harus punya temen. Yah, begitulah. Kami sering bareng, mulai masuk kerja dengan selisih hari, keluarnya juga. Kalau lagi sama – sama di kantor, kami makan bareng dsb, meja pun sebelahan, sampai sepanjang kami disana orang suka ketuker. Manggil saya dengan namanya, begitu sebaliknya. Padahal kami gak mirip, saya berjilbab dan berkacamata. Dia tidak berjilbab dan tidak pakai kacamata. Hehe. #ehjadipanjangdisini

bersama kawan-kawan, jelang hari terakhir di kantor

bersama kawan-kawan, jelang hari terakhir di kantor

Kemudian, kemana setelahnya?

Mungkin agak konyol kedengarannya ketika saya memutuskan berhenti tetapi belum ada pengganti. Yah, apa boleh buat. Nampaknya memang ketidakbahagiaan saya sudah cukup memuncak. So, I left the job dan menjadi self-employed untuk sementara. Sebenernya pakai term ini karena gak mau dibilang, dan memang juga gak bisa dibilang unemployed. Haha. Alhamdulillah, selepas memutuskan berhenti, ada saja yang menawarkan untuk pengerjaan sesuatu hal baru, yang saya harap ini akan memberi pelajaran buat saya. Tidak sekedar mendapatkan uang tentu saja. Terus terang hal baru ini agak membuat deg-deg-an. Tetapi, selalu ada yang pertama sebelum yang kedua dst bukan?😉

Wish me luck! Hehe

2 thoughts on “Resign

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s