Nothing Wrong with Failure

failure3

Dari judulnya, postingan ini sudah ketebak lah ya, mengarah kemana. Betul. Saya baru saja mengalami kegagalan yang kedua dalam seleksi substansi beasiswa LPDP. Sebagian besar dari pembaca mungkin cukup familiar dengan LPDP. LPDP adalah Lembaga Pengelola Dana Pendidikan yang salah satu fungsinya adalah mengelola dana untuk beasiswa magister dan doktoral, baik dalam dan luar negeri. Lebih lanjut tentang LPDP silakan dicari di situs yang bersangkutan. Continue reading

Resign

20141221-112503.jpgSalah satu keputusan yang tidak mudah sebetulnya, untuk memilih hengkang dari pekerjaan saya di sebuah majalah. Pun setelahnya kadang terlintas di pikiran, apakah keputusan yang saya ambil benar? Apakah sekedar imbas emosi yang berlebihan?

Bekerja tentu bukan sekedar mencari uang untuk penghidupan, tetapi harus ada hal-hal lain yang kita peroleh. Kebahagian, pembelajaran, misalnya. Setidaknya itu yang saya yakini. Pada akhirnya, ketika ekspektasi sudah tidak terpenuhi lagi dan saya sering mengeluh karenanya, mempertahankannya sepertinya bukan lagi ide yang baik.  Bukan, bukan karena saya tidak suka lagi dengan pekerjaan itu. Apa boleh buat, keengganan untuk meneruskan sudah menghampiri. Kadang dalam benak saya terlintas, rasanya 1,5 tahun lalu agak buang waktu. Tapi buru-buru saya enyahkan pikiran itu dan mulai membangun pikiran bahwa pasti ada yang bisa dipetik, ada hal yang bermanfaat.

Satu hal yang bagi saya cukup berat terasa juga cukup menguras air mata di hari terakhir saya adalah meninggalkan kebersamaan dengan orang-orang yang membersamai selama 1,5 tahun terakhir. Ternyata begini rasanya meninggalkan, tidak mudah untuk begitu saja menghapus hal-hal yang biasanya menjadi rutinitas bersama. Gak ada lagi marathon rapat tiap senin, juga saling kirim pesan via whats App ke Nimas, yang memutuskan keluar lebih dulu beberapa hari. Biasanya hampir tiap hari kami saling tanya : lo ngantor jam berapa? Udah bikin laporan? Haha. Lucu kan, kayak anak baru yang harus punya temen. Yah, begitulah. Kami sering bareng, mulai masuk kerja dengan selisih hari, keluarnya juga. Kalau lagi sama – sama di kantor, kami makan bareng dsb, meja pun sebelahan, sampai sepanjang kami disana orang suka ketuker. Manggil saya dengan namanya, begitu sebaliknya. Padahal kami gak mirip, saya berjilbab dan berkacamata. Dia tidak berjilbab dan tidak pakai kacamata. Hehe. #ehjadipanjangdisini

bersama kawan-kawan, jelang hari terakhir di kantor

bersama kawan-kawan, jelang hari terakhir di kantor

Kemudian, kemana setelahnya?

Mungkin agak konyol kedengarannya ketika saya memutuskan berhenti tetapi belum ada pengganti. Yah, apa boleh buat. Nampaknya memang ketidakbahagiaan saya sudah cukup memuncak. So, I left the job dan menjadi self-employed untuk sementara. Sebenernya pakai term ini karena gak mau dibilang, dan memang juga gak bisa dibilang unemployed. Haha. Alhamdulillah, selepas memutuskan berhenti, ada saja yang menawarkan untuk pengerjaan sesuatu hal baru, yang saya harap ini akan memberi pelajaran buat saya. Tidak sekedar mendapatkan uang tentu saja. Terus terang hal baru ini agak membuat deg-deg-an. Tetapi, selalu ada yang pertama sebelum yang kedua dst bukan? 😉

Wish me luck! Hehe

He Knows

Rasanya saya belum share apa aktifitas saya sehari-hari,pun dengan aktifitas keseharian saya sebelum ini. Nah, sekarang mau cerita nih tentang apa yang saya rasakan mengenai keseharian saya. Hoho.
Dulu sekali, waktu buku harian atau lazim disebut Diary masih jadi ‘mainan’ generasi 90-an, ingat gak kalau pada saling bertukar biodata antar teman?
Salah satu poin dalam biodata tsb adalah cita-cita. Saya ingat betul, tidak hanya menuliskan satu profesi sebagai cita-cita. Di buku si A, pernah nulis mau jadi dokter, di buku lain, gak jarang juga menulis cita-cita sebagai reporter.
Walhamdulillah, kini Allah kasi saya kesempatan untuk itu. Menjadi reporter. Dulu, yang jadi bayangan saya ketika itu adalah betapa asiknya perkerjaan seorang reporter yang banyak melakukan perjalanan juga bertemu banyak orang.
Satu tahun ke belakang memang saya mencoba peruntungan untuk apply pekerjaan di media melalui situs pencarian kerja. Tinggal daftar di situs tersebut, dapat info, apply dan saya terserah aja hasilnya gimana. Tidak ngoyo karena memang saat itu saya bekerja untuk sebuah lembaga.
So far saya masih menikmati aktifitas saya di sebuah majalah bisnis cukup ternama. Senang banyak bertemu orang baru, entah dari liputan atau wawancara-wawancara yang saya lakukan. Banyak insight yang bisa diambil ketika bertemu mereka. Dan ternyata, ritme kerja untuk sebuah majalah dwi-mingguan ini cocok untuk saya.
Kok berlainan dengan bidang yang ditekuni selama kuliah?
Mungkin ada yang mikir tentang ini. Saya pun sejak kuliah gak pernah kebayang untuk terjun ke jurnalistik lagi setelah sebelumnya pernah nyicip pas jaman putih abu. Tapi ternyata Tuhan menunjukkan kemari. So,selama bisa enjoy, bisa petik hikmah, dan tentunya belajar, why not? Apalagi waktunya cocok karena saya gak harus standby 8-5, meski bisa juga pekerjaan baru selesai setelah jam itu. Emang sih, ini bukan akhir pencapaian tentang pekerjaan/kontribusi yang saya inginkan. Sempet kepikir, gimana ya cita-cita yang itu? Beruntungnya, temen saya beropini, bidang ini justru luas, temukan aja linkage-nya, begitu katanya. Dan kemudian saya pun kembali bersemangat. Yeay!
Ah ya, gimana soal finansial?
Jumlahnya emang gak sebanyak yang didapet temen-temen di perusahaan multinasional. Tapi lagi-lagi, rezeki itu udah diatur sama Tuhan. InsyaAllah akan dicukupkan. Ia tahu apa yang dibutuhkan hamba-Nya. Mana tahu kan, kaya saya gini bisa dapet doorprize gadget yang ga pernah kepikir bakal saya kebeli. :p etapi, balik lagi sih ke apa yang ingin diraih dalam hidup. Hoho

Yap, itulah seklumit cerita jurnalis AC kalau kata temen saya. Hehe. Jalani apa yang kiranya kau suka dan dibukakan jalannya sama Dia. Kalau gak suka dan ga ketemu jalannya, tinggalin aja. 😉

Melanglang di Malang

Merasa sangat cupu karena minim melakukan perjalanan, melanglang dan menjelajah, saya bertekad untuk menjejak lebih banyak di bumi-Nya tahun ini. Maka, ajakan untuk melanglang dari kawan saya jelas tidak mau saya lewatkan. Berawal dari obrolan kawan-kawan saya yang manis dan jomblo, yang sama-sama pengen liburan, kami membicarakan beberapa tempat yang bisa masuk list. Akhirnya pilihan jatuh pada Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Karena Bromo letaknya dekat dengan Malang, jauh dari domisili kami di Jakarta, saya mengusulkan bagaimana jika ditambah ke Pulau Sempu. Melihat gambar-gambar Sempu di internet, siapa yang tidak tertarik? Palu pun diketok, 9-12 Maret 2013 waktunya. Perjalanan ke Malang ini jadi perjalanan pertama saya ke Jawa Timur.

Menurut rencana, perjalanan ini mestinya diikuti oleh sekitar 14 orang. Tapi, apa mau dikata, beberapa batal berangkat karena satu dan lain hal. Jadilah kami bersembilan. Saya, Nanda, Widy, Luluk, Terry, Ayu, kemudian adik saya Anis dan temannya, Yorra. Girls trip? Oh tidak sebenarnya. Ada satu lagi peserta, Dudung namanya, kawan Nanda di kantor.

Menurut rencana pula, kami berangkat dengan kereta Matarmaja dari Pasar Senen. Tapi, apa mau dikata pula, ada kisah yang menjadikan kami berlima tidak berjodoh dengan Matarmaja.
Continue reading

Habibie-Ainun; antara buku dan film

Akhir tahun lalu, masyarakat Indonesia disuguhkan beberapa film yang menarik. Diantaranya adalah Habibie-Ainun yang diangkat dari buku yang ditulis langsung oleh Pak Habibie yang menceritakan kisahnya dengan separuh jiwanya, Ibu Ainun.
Sebelum filmnya tayang, sengaja saya baca bukunya. Dengan niatan agar bisa merasakan beda antara tulisan dan visualnya. Menurut saya, buku tersebut menarik. Meski di awal saya kurang begitu bersemangat untuk segera menyelesaikan.
Continue reading

Catatan Android-user : memilih

Saya bukan expertise di bidang teknologi, tapi hal-hal berbau teknologi yang berkaitan dengan komputer dan semacamnya menarik minat tersendiri bagi saya. Maka izinkan saya yang ingin berbagi tentang pengalaman saya menggunakan android. Postingan ini sebetulnya terilham ketika satu-dua orang bertanya kepada saya.

Boleh dibilang saya belum lama menggunakan smartphone, khususnya yang berbasis android. Baru sekitar 6 bulan. Masih tergolong baru bukan ? yak, sebelum-sebelumnya memang saya sudah mengincar ponsel berbasis android, tetapi karena henpon saya waktu itu masih cukup oke, masih bisa mencukupi kebutuhan, juga karena belum punya duit sih saya akhirnya baru beli beberapa waktu kemudian setelah henpon saya hilang.

Mungkin ada yang bertanya, baiknya beli seperti apa? Selain menyesuaikan budget yang akan dipakai, tentu ada pertimbangan-pertimbangan lain. Tapi yang paling memengaruhi bagi kebanyakan orang mungkin soal budget ini. Nah, apa saja yang perlu diperhatikan selain budget? Mostly terkait kebutuhan sih biasanya. Poin-poin berikut bisa jadi masukan.

Continue reading

Jakarta

image

Pemandangan sesaknya kereta seperti di atas tentu bukan hal yang asing apalagi langka bagi warga Jakarta. Kota yang menjadi ibu kota dan menjadi tempat masyarakatnya melambungkan harapan karena konon 70 persen uang beredar di pulau jawa ada di jakarta.

Anggapan di atas tentu bisa jadi benar karena memang jakarta pudat segalanya.

beberapa waktu lalu, saya diminta bantu survei dari dosen dan berkesempatan melihat sisi lain ibukota yang jarang saya lihat karena memang terus terang saya tidak banyak mobilitas di jakarta khususnya ke perkampungan-perkampungan seperti tempat saya survei.

Cukup terkejut saya melihat begiyu padatnya perkampungan tersebut. jarak antar rumah hanya sekitar satu meter. buktinya ada di salah satu foto tersebut. rumah-rumah berhimpit, sempit dan sangat pelit bagi keluangan ruang gerak mereka. Banyak warga yang menghabiskan waktunya di depan rumah mereka.

Hingga malam, itu yang mereka lakukan. Demikian pula dengan anak-anak. Kalau mau melihat anak yang tidak mengurung di rumah bersama PS-nya, di sini tempatnya. Mereka bermain di gang sempit tempat tinggal mereka. Ya, bisa dipahami, rumah mereka tidak lebih luas untuk bermain dan berlarian di dalam. Bahkan untuk menaruh sepeda motor di dalam rumah saja, tidak bisa mereka lakukan.

Padatnya permukiman mereka juga dapat dilihat dari jumlah orang yang tinggal. Rumah yang tak seberapa luas tsb bisa dihuni oleh 7 orang. Lagi, kita bisa lihat dari daftar penduduk. Satu RT bisa terdiri atas 80 kepala keluarga.

Ya. Keadaan demikian yang mereka hadapi. Menjadi keseharian. Inilah hidup yang mau tak mau mereka harus jalani. Seperti ini hidup yang mereka perjuangkan di ibu kota yang katanya menjadi tempat terbesar perputaran uang.

Sangat kontras jika dibandingkan cerita kawan yang pernah ke timur Indonesia, rumah-rumah berjauhan, anak-anak bebas bermain di tanah lapang. Seandainya uang juga berputar di timur tersebut, tentu tidak demikian yang terjadi.

Hal-hal ini lah yang mestinya mendapat perhatian. Tidak seharusnya pusat pertumbuhan hanya di ibukota.